Kualitas Udara Ruangan (Clean Room Design) Pada Sistem HVAC

Untuk mendesign sistem udara/HVAC pada rumah sakit, ruangan laboratorium, farmasi atau pabrik makanan memerlukan perhatian khusus dengan berpedoman yang disyaratkan pada ISO/FDA/KEMENKES/GMP untuk perancangan Tata Udara nya. Kualitas udara harus terjamin hygine dan kesehatan nya dan tidak mengandung partikel berbahaya seperti Bakteri, virus, mikroorganisme yang berada di udara (airborne microorganism), jamur, dan sumber-sumber penyakit lainnya yang dapat menular merupakan hal yang harus menjadi perhatian dalam sistem tata udara. Belum lagi, bahan kimia yang berbahaya (misalnya gas anestesi atau di laboratorium), bahan-bahan radioaktif

Standar penentuan kualitas udara ditentukan oleh:
1. Air flow – Turbulen atau laminar
2. Temperature : disesuaikan temperature pemakai
3. Relative Humidity (RH): untuk standar high care area : 50-55%
4. Pressure difference: Positive & Negative
5. Kebersihan dengan cara filtrasi dan udara ventilasinya; Tipe filtration: Eurovent 5-7
6. Sirkulasi & Distribusi udara, Jumlah pertukaran udara: 6-8 dengan 85% recirculation

Tipe filter udara:

  1. Pre Filter (menyaring partikel udara 100 mikron)
  2. Medium Filter (menyaring partikel udara hingga 1-10 mikron)
  3. Hepa Filter, penggunaan filter HEPA yang mempunyaitest filter Dioctyl phthalate (DOP) dengan effisiensi penyaringan 99,97% di area tertentu menyaring udara higga 0,1 mikron. Dimana untuk bacteri dapat difilter-ASHRAE Standar 52.1)
  4. Ultra Filter (ULPA)

Berikut tabel pemilihan filter udara ruangan pada rumah sakit

Aliran udara / inlet supply udara

Mengikuti Aliran udara pada clean room, maka untuk ruangan aliran udara ini harus secara Laminar/directional.

Tekanan udara / Air pressure antar ruangan

Perbedaan tekanan antar ruang fungsi tertentu dengan ruang disebelahnya harus direncanakan dengan benar untuk menghindari adanya migrasi dari sumber penyakit atau bahan-bahan berbahaya yang dapat dihirup oleh penghuni, mencegah infiltrasi udara yang kurang bersih ke dalam ruangan yang lebih bersih, sehingga diusahakan ruangan lebih bersih, tekanan udaranya juga lebih tinggi dibandingkan dengan ruangan kurang bersih.

Berikut diagram tekanan udara antar ruangan ( KEMENKES- Pedoman teknis Tata Udara Rumah Sakit)

Point 2 Perawatan dan Pemiliharaan Rutin Sistem HVAC AHU:

Kegiatan pemeliharaan rutin mencakup:
(1) Pembersihan/pencucian/penggantian filter udara di Air Handling Unit (AHU) dan
atau Fan Coil Unit (FCU) di tiap lantai.
(2) Pembersih/pencucian cooling coil di Air Handling Unit dan atau Fan Coil Unit di
tiap lantai
(3) Pembersihan/pencucian finned tube air cooled condenser.
(4) Pembersihan dan pelumasan bearing semua motor listrik
(5) Pemeriksaan dan pengencangan V-belt motor fan AHU/FCU
(6) Pemeriksaan dan pengencangan baut-baut terutama pada tempat-tempat yang
menimbulkan getaran, misalnya condensing unit, dudukan AHU/FCU, Tata
Udara, Exhaust Fan dsb.
(7) Pembersihan komponen-komponen listrik didalam panel control.
(8) Pemeriksaan, penambahan/penggantian oli kompressor.
(9) Pemeriksaan/penambahan refrijeran.
(10) Pemeriksaan dan penggantian silica gel filter drier.
(11) Pemeriksaan fungsi alat ukur meliputi :
(a) thermometer, pressure gage pada chiller water system
(b) pressure pada instalasi pipa refrijeran
(c) thermostat, hygrometer didalam ruangan.
(12) Pemeriksaan alat ukur tegangan, ampere pada panel listrik
(13) Pemeriksaan fungsi peralatan elektronik pada mesin pendingin.
(14) Pemeriksaan fungsi pompa chiller water.

Sistem Kerja AC VRV atau FRV

VRF merupakan jenis AC dengan teknologi terbaru yang saat ini sudah banyak diaplikasikan. AC VRV merupakan akronim dari ‘Variable Refrigerant Volume’. Pendingin ruangan jenis ini mampu mengakomodir bangunan-bangunan bertingkat dan kapasitas pendinginan yang besar.

Bagaimana sistem kerja AC VRV

Prinsip kerja pendingin udara yang sangat popular di Kawasan Eropa dan Jepang ini mengedepankan kenyamanan dan kemudahan. Bahkan saat ini di Indonesia pun sudah banyak yang mengaplikasikan AC VRV atau VRF. sistem AC VRV atau VRF menggunakan sistem ‘Variable Refrigerant Volume (Flow)’ untuk mengatur jumlah refrigerant dalam sistem jalur pipa AC, sehingga memberikan tingkat efisien dan fleksibilitas dalam pengaplikasian pendinginan tata udara. Secara garis besar, AC VRV atau VRF merupakan sistem AC berteknologi inverter dengan sistem kombinasi outdoor yang mencangkup beberapa indoor. Cocok untuk bangunan-bangunan bertingkat dan berkapasitas besar, menggantikan sistem AC konvensional seperti chiller dan split.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah keunggulan dalam sistem AC VRV atau VRF :

  1. Sistem Pipa Refrigerant

Pendingin udara ini mempunyai komponen utama yakni sistem pipa refrigerant yang mampu untuk menangani kasus-kasus jalur pipa yang panjang baik secara horizontal maupun secara vertical, dan berkapasitas besar. Kinerja refrigerant merupakan komponen utama sebagai bahan pokok dalam sistem kerja AC.

2. Kompresor Inverter (Hemat Listrik)

Komponen yang tidak kalah penting berperan dalam sistem kerja AC VRV atau VRF adalah kompresor berteknologi inverter. Komponen ini mampu meminimalisir konsumsi daya tanpa mengurangi kualitas pendinginan serta pemanasan parsial. AC VRV atau VRF merupakan sistem terbaik dan tercanggih dalam aspek tingkat efisien pengunaan daya listrik dalam pengaplikasian pendinginan tata udara.

3. Sistem Kombinasi Outdoor dengan Multi Indoor

AC sistem VRV atau VRF merupakan sistem AC yang menggunakan sistem kombinasi outdoor AC yang compact untuk beberapa jumlah indoor yang digunakan. Dan sistem AC VRV atau VRF memberikan berbagai macam pemilihan jenis indoor AC dan kapasitas dalam satu sistem outdoor, sesuai dengan kebutuhan dan desain sistem AC di berbagai macam kasus.

4. Space saving dalam penempatan Outdoor AC

Outdoor AC sistem VRV atau VRF memberikan keleluasaan dalam penempatan atau pemosisian outdoor AC. Jalur pipa refrigerant yang berkemampuan besar dalam kapasitas panjang pipa, dan kombinasi outdoor yang mampu mencangkup banyak indoor, maka AC VRV atau VRF dapat memberikan flexibilitas pada pemakai atau pemilik untuk menempatkan outdoor AC dengan keleluasaan sesuai dengan kondisi dan keterbatasan.

5. Kompetensi ekspansi modular

Sistem kerja yang tak kalah canggih dan menarik dari jenis pendingin ini adalah kompetensi ekspansi modular yang dimiliki. Kemampuan ini sangat penting diterapkan terutama bagi proyek-proyek besar yang berkembang dengan beberapa tahapan penyelesaian

6. Perawatan atau Maintenance yang Lebih Mudah

Sistem AC VRV atau VRF yang menggunakan teknologi tingkat tinggi juga sudah dilengkapi dengan fitur-fitur otomotas yang memberikan kemudahan pada teknisi AC khusus VRV atau VRF untuk membaca kode error jika terjadi kerusakan, dengan demikian teknisi dapat mengetahui dan menyelesaikan masalah dengan tepat dan cepat.

Perawatan cuci AC dipermudah dengan sistem AC VRV atau VRF yang menggunakan outdoor yang compact sehingga tidak perlu mencuci outdoor sebanyak outdoor seperti menggunakan sistem konvensional atau split biasa.

7. Back-up Kompresor

Setiap outdoor AC VRV atau VRF dilengkapi dengan back-up kompresor di setiap module outdoor, sehingga jika terjadi kerusakan atau failure tidak menyebabkan sistem AC mati total. Dengan demikian teknisi dapat diberikan waktu dalam merespon panggilan untuk memperbaiki kerusakan sistem AC.

8. Ramah Lingkungan

AC VRV atau VRF telah mengaplikasikan teknologi ozone free. Artinya, tidak seperti jenis pendingin udara konvensional yang mampu merusak lapisan ozon. Pendingin uara jenis VRV sangat ramah lingkungan dan tidak menyebabkan kerusakan ozon yang dapat memicu pemanasan global.

Fabric/Textile Duct untuk saluran udara HVAC

Textile Duct adalah model pendistribusian udara HVAC terkini yang terbuat dari bahan kain khusus berteknologi tinggi. Menggantikan saluran udara tradisional BJLS, PU duct, diffuser, isolasi, katub udara.

Keunggulan dari Textile duct yang digunakan untuk distribusi udara dari AHU adalah:

  1. Penyebaran udara lebih merata, karena udara disalurkan sepanjang kain duct melewati pori2 kain atau nozzle (lobang keluaran udara)
  2. Lebih Hygiene & sehat serta tidak terjadi kondensasi
  3. Bahan jauh lebih ringan disbanding BJLS, PU, sehingga tidak membebani struktur bangunan
  4. Lebih cepat dan mudah dalam pemasangan
  5. Lebih mudah dalam hal pembersihan dan pemeliharaan
  6. Lebih efisien dan hemat biaya

Merk textile duct yang dipakai adalah DurkeeSox yang memiliki sifat anti-mikroba, anti statis, fire resistant, dll, DurkeeSox memiliki 3 seri bahan:

  1. NanoSox (NS/General, NS-M/antimicrobial, NS-S/antistatic, NS-N/non permeable)
  2. LaminSox (Tipe LS-N/No permeabel, LS-M/antimircobal, LS-2/antistatic)
  3. FiberSox (Class A)

Ada 3 bentuk penyaluran udara pada textile duct:

  1. Air – porous/pori-pori : penyebaran udara dingin melalui pori-pori pada bahan kain duct
  2. Linear vent : penyebaran udara dingin melalui lobang sejajar pada jalur ducting
  3. Nozzles : hamper sama dengan liner vent tetapi dilengkapi dengan nozzle dilubang buangan nya (biasa dipakai untuk untuk high static flow)

Untuk estetika kain duct dapat dicustomize sesuai dengan permintaan warna serta dapat ditambahkan logo pada textile duct yang dipesan.

Pemasangan textile duct dikaitkan dengan hook melalui kawat sling atau longdrat yang digantung kestruktur bangunan ceiling atau reng baja rangka atap.

Penggunaan textile atau kain duct banyak dijumpai pada stadion, Gudang, supermarket, pabrik makanan, gedung olah raga, dimana memiliki arstitektur ceiling terbuka.

Instalasi Ducting AC

Ducting AC adalah saluran untuk udara yang sudah dikondisikan/didinginkan dari AHU/Indoor AC central yang kemudian didistribusikan kesemua area suatu bangunan yang diinginkan, saluran ducting melawati bagian atas plafond atau duct bangunan.

Menurut bentuk nya Ducting terdiri dari:

  1. Square Ducting, yaitu ducting yang berbentuk segi empat (terdiri dari jenis BJLS & PU)
  2. Spiral Ducting, ducting yang berbentuk spiral seperti pipa
  3. Flexible Ducting, adalah ducting spiral yang bersifat flexible seperti slang yang bisa dibengkokkan. Terdiri dari flexible aluminum duct isolasi dan non isolasi.

 

Contoh Spiral & flexible insulation ducting:

 

Menurut bahan nya ducting terdiri dari:

  1. Ducting berbahan BJLS (Baja Lapis Seng) terbuat dari mid steel, galvanis tahan karat, yang memiliki ketebalan dari 0.4mm -1.2 mm
  2. Ducting PU (Poly Urethene), adalah bahan yang terbuat dari busa yang berlapisan aluminium foil pada permukaan nya sebagai bahan isolasi. Kelebihan bahan PU sebagai bahan ducting antara lain: kemudahan dalam memasang, memotong, dan dibentuk dan dapat ditekuk 90 derajat seperti elbow, bahan lebih ringan, insulation lebih baik dan lebih efisien dalam mengurangi heat loss dan lebih baik dalam meredam noise.
  3. Stainless steel
  4. Insulated panel, dll

Contoh PU ducting

Bagian aksesoris ducting cukup banyak umumnya, terdiri dari insulation (Jacketing glasswool, Aluminium foil), support gantungan terdiri dari behel, siku, flendes, Alat sambungan Flange, Tee connector, Invisible flange, Bayonet, Covering angel, H Flange, F Flange, Lem, Duct Tape, Sealant, Alumunium tape, Ball joint dll.

Cara penyambungan PU:

Lembaran PU disambungkan dengan Flange (Invisible flange, F flange), bila pakai invisible flange penyambung menggunakan bayonet. Selanjut nya bagian sambungan diberi lem dan tape sehingga tidak ada celah udara yang bocor. Untuk memperkuat ditambahkan siku pada sisi sambungan.

Ukuran atau dimensi ducting ditentukan dari perhitungan volume udara yang disupply (CFM: Cubic Feet Minute) dan Kapasitas AC dari perhitungan design HVAC.

Contoh design ukuran ducting & diffuser:

Contoh gambar kombinasi ducting (Square dan spril, flexible duct)

Pada bagian ujung supply dipasang supply air Diffuser yang dapat berbentuk square/segi empat, Linear/Bar grill dan round/bulat. Ukuran dari diffuser ditentukan dari volume udara yang disebarkan ke ruangan (CFM)

Contoh diffuser (square, round, bar)

Berikut table permilihan diffuser dengan parameter CFM, noise dan static pressure.

Perhitungan biaya pembuatan ducting AC:

Biaya pembuatan ducting ditentukan dari ukuran dan Panjang ducting yang akan dibuat. Biasanya dihitung M2.

Contoh bila untuk membuat ducting dengan dimensi lebar 100cm, tinggi 50 cm total Panjang 20 m. Maka total volume ducting sebesar:

  • Vol Ducting = (1+0.5) x 2 x 20 = 60 M2.
  • Misalkan biaya perimeter Rp 500 000 per M2 termasuk ongkos+bahan. Maka biaya yang diperlukan untuk instalasi ducting sebesar = Rp. 500 000 x 60 = Rp. 30 jt
  • Misal biaya jasa per meter Rp 60 000 per M2, maka biaya jasa pemasangan = Rp. 60 000 x 60 = 3,6 jt

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pemasangan ducting:

  1. Ukuran/diameter ducting
  2. Jumlah titik distribusi /Difuser
  3. Sistem isolasi (heat insulation)
  4. Kebocoran saluran ducting
  5. Friction, heat loss
  6. Getaran/noise saat dijalankan
  7. Estetika atau penampilan

Perancangan sistem tata udara (HVAC)

Pengkondisian udara diperlukan untuk mengatur suhu, kelembaban, kebersihan dan pendistribusiannya sehingga udara dalam ruangan atau gedung dapat terjaga kualitas nya dan mencapai kondisi nyaman bagi orang yang berada diruangan tersebut

Hal yang harus diperhatikan dalam perancangan sistem tata udara adalah:

1. Temperature pendinginan yang diinginkan
2. Tingkat humidity
3. Beban pendinginan terdiri dari: Volume ruangan, Jumlah orang, Peralatan yang ada
6. Jenis mesin pendinginan yang akan digunakan (AC central: Chiller, Split)
7. Perancangan saluran pendinginan (AHU, ducting)
Beban pendinginan:

Adalah jumlah panas yang dipindahkan oleh sistem pengkondisian udara.

Beban pendinginan suatu ruang berasal dari dua sumber, yaitu melalui sumber eksternal dan sumber internal

1) Sumber panas eksternal antara lain:
-Radiasi surya (panas matahari) yang ditransmisikan melalui kaca
-Radiasi surya (panas matahari) yang ditransmisikan melalui atap, dinding
-Panas konduksi dan konveksi melalui pintu dan jendela akibat perbedaan temperature
-Panas oleh udara akibat pembukaan pintu/jendela, celah-celah jendela
-Panas karena ventilasi

2) Sumber panas internal:
-Panas dari aktivitas orang/penghuni
-Panas dari lampu atau peralatan listrik lainnya

Dalam sistem AC dikenal 2 macam panas, yaitu:
1. Panas sensible yaitu panas yang menyebabkan perubahan temperature tanpa perubahan fase. Umumnya semua yang berasal dari panas internal dan eksternal. contoh panas sensibel:
-Transmisi panas dari bangunan lewat atap, dinding, kaca, jendela, dll
-Panas dari lampu, peralatan
-Panas dari penghuni

2. Panas laten yaitu panas yang menyebabkan perubahan fase tanpa menyebabkan perubahan temperature.
Contoh panas laten:
-Panas dari penghuni ruangan
-Panas ventilasi/filtrasi dari kelembaban udara dalam dan luar

Dalam kenyataannya kalor yang masuk kedalam gedung tidak tetap, karena faktor-faktor yang mempengaruhi kalor tersebut juga berubah-ubah, sebagai contoh:
-Temperature udara luar nilainya merupakan fungsi waktu, maksimum disiang hari rendah dipagi dan sore hari, minimum dimalam hari.
-Jumlah penghuni yang tidak tetap (variable orang)
-Peralatan listrik sebagai sumber panas yang nyala diwaktu tertentu (utilisasi)

Dasar perhitungan beban pendinginan dilakukan dengan dua cara:
1. Perhitungan beban kalor puncak (total peak load)
2. Perhitungan beban kalor sesaat

Rumus dan cara perhitungan beban pendinginan (Cooling load)

  • Sumber  panas internal:

1. Penghuni ruangan:
a) Beban panas sensible: Qso = n x SHG x CLF
b) Beban panas laten: Qlo = n x LHG
Dimana,
n = jumlah orang
SHG=Sensible heat gain per orang
LHG=Laten heat gain per orang
CLF=Cooling load faktor, assumsikan 1 jika ruangan tidak dimaintain konstant selama 24 jam

Lihat Tabel SHG dan CLF dalam watt

2. Field heat
Beban kalor yang dibawa produk yang akan didinginkan atau disimpan
Q= m Cp delta T
m=berat dari produk (kg)
Cp=panas jenis produk
delta T=perubahan suhu

3. Lampu penerangan
a) Beban sensible – Qsl = input x n x CLF
Input: Total watt lampu
n : jumlah lampu terpasang
CLF diasumsikan 1 jika lampu dinyalakan terus menerus selama 24 jam.

4. Peralatan listrik/appliance
Beban sensible: Qsp = Heat gain x CLF
5. Ventilasi dan filtrasi
a)Beban sensible : Qsv = 1,23 x Q x delta T
b)Beban latent: 3010 x Q x delta W

  • Sumber panas eksternal:

1. Sinar matahari:
Q = A x SC x SHGF x CLF
Q = U x A x delta T

dimana,

A = luas area
SC=shading coefficient (lihat tabel)
adalah faktor pengurang panas pada kaca yang dilapisi isolasi (absorb panas) nilai 0,2 (contoh: kaca reben) – 1 (tanpa isolasi panas)
SHGF = solar heat gain factor, area timur khatulistiwa biasa berkisar 500 – 800 w/m2 (lihat tabel)
CLF=Cooling load factor
U = koefesien perpindahan panas
A = Luas permukaan
delta T = perbedaan suhu dalam dan luar ruangan
2. Dinding dan atap:
Q = U x A x CLTD, dimana:
U = koefesien transfer panas keseluruhan eksternal dinding dan atap (nilainya antara 2-4)
A = Luas area
CLTD= Cooling load temperature difference (lihat tabel)

3. Kaca:
Q = U x A x CLTD, dimana:
U = koefesien transfer panas keseluruhan eksternal jendela kaca nilai nya berkisar 3-6
A = Luas area
CLTD= Cooling load temperature difference (lihat tabel)

CLTD merupakan perbedaan temperatur dalam ruangan dan temperature luar,
peak tertinggi disiang hari yaitu jam 2 siang dimana temperatur luar 39 sedangkan temperature dalam 25
CLTD = 39 – 25 = 14

Sumber panas lain (service load)
adalah panas lain yang timbul dalam proses operasi pendinginan seperti kipas, operator,
udara luar ketika pintu dibuka, motor listrik, panas infiltrasi dari penyekat dan rak pendingin.
(Besar service load sekitar 10% dari total konduksi panas)

AHU & Ducting

Ducting berfungsi menyalurkan udara yang telah dikondisikan dari mesin AHU (Air handling unit)
ke seluruh ruangan. Sedangkan AHU mendapatkan supply media pendinginan dari chiller.

Desain dan struktur kontruksi ducting:
-Ditempatkan pada struktur bangunan dengan menempel atau menggantung pada ceiling
-Desain struktur bangunan ceiling atau dinding harus kuat menahan beban ducting
-Ducting dari bahan yang kuat, tidak menimbulkan bunyi
-Tahan aliran udara , dan tidak ada kebocoran
-Contoh material ducting dipasaran:
1. Galvanized steel
2. Polyrethane duct board / preinsulated aluminium ducts)
3. Fiberglass duct board (preinsulated non metalic ductwork)
4. Flexible tubing

Perhitungan supply udara:
A = Cfmsa / V u
A = Luas duct (m2)
Vu = Kecepatan aliran udara (m/s)
Cfmsa = Jumlah udara supply (m3/s)

return ducting, berfungsi untuk mengalirkan udara balik dari ruangan yang telah
dikondisikan kembali ke AHU:
A = Cfmra/Vu;
Cfmra=Jumlah udara balik (m3/s)

Langkah-langkah dalam perancangan dan pemilihan komponen sistem tata udara:

1.Hitung beban pendinginan (Data beban)
2.Perhitungan Psikometric chart
3.Perhitungan pressure drop air flow
4.Perhitungan dimensi ducting
5.Pemilihan sistem AC

Contoh perhitungan pengkondisian udara pada sebuah bangunan terdiri dari 3 lantai.

pb1

pb2
pb3Perhitungna exhaust fan (sirkulasi udara):
Exhaust fan dipasang untuk mengatur sirkulasi udara diruangan. Ada dua macam keluaran exhaust fan:
1. Udara dikeluarkan ke luar gedung melalui ducting
2. Udara dari exhaust fan dikembalikan ke AHU (return air) untuk disaring dan dikirimkan kembali keruangan

Beberapa vendor juga sudah memiliki exhaust fan dan supply fan diunit AHU yang sama.
Perhitungan air sirkulasi CFM (cubic feet minutes) berdasarkan volume ruangan dan rating air sirkulasi
(frekwensi/jam) yang disyaratkan untuk masing-masing ruangan.

Ada 2 jenis ventilating fan: wall ventilating fan dan ceiling ventilating fan. Ceiling ventilating fan
dipasang diatas platfond dan memiliki pipa ducting untuk meneruskan udara keluar ruangan atau dikembalikan
ke return air diAHU untuk difilter dan disalurkan kembali ke ruangan. Untuk memakai ceiling ventilating fan
perlu mempertimbangkan besarnya hambatan atau statik pressure karena panjang nya salurang pipa ducting dan
juga karena ada belokan sehingga pemilihan CFM harus lebih besar dari perhitungan untuk menkompensasi faktor
hambatan tersebut.

Contoh pemilihan exhaust fan:

Tentukan kapasitas exhaust fan yang akan dipasang untuk sebuah ruangan hall dengan ukuran
(lebar) 10m x (lebar) 10m x (tinggi) 5m.

Konversi m ke feet (1 m = 3,28 feet)

Panjang = 10 m x 3,28  = 30,28 feet
Lebar   = 10 m x 3,28  = 30,28 feet
Tinggi  = 5m x 3,28    = 16,4 feet

Volume ruangan = 30,28 x 30,28 x 16,4 = 15036,80 cubic feet

standar rating flow rate untuk hall (lihat tabel) = 8 x / jam

Kapasitas exhaust fan = 15036,80 x 8 / 60 = 2004,97 CFM

Pilihan,
1 unit 2500 CFM
2 unit 1000 CFM (terpasang setiap jarak 5 meter)
4 unit 500  CFM (terpasang setiap jarak 2 meter)
Contoh menentukan ukuran AC split pada suatu ruangan:

1 PK = 1 HP = 735,5 watt
Suatu kamar dengan ukuran lebar 3 meter, panjang 3 m, tinggi 3m, ditempati oleh penghuni
2 orang. berapakah kapasitas AC yang diperlukan untuk pendinginan ruangan?
Hitung beban panas ruangan:

Beban panas radiasi bangunan:
Q = 9 x 2 x 10 (beda suhu luar dan dalam) = 180

Beban panas orang:
Q internal = 2 x  (60 (sensible) + 40 (laten) )  = 200

Total heat = 380 watt = 0,51 PK
Ukuran ac = 1/2 PK

pasang-ac