Posted on Leave a comment

TAHAPAN PEMBUATAN JALAN ASPHALT

Jalan asphalt terdiri dari bermacam lapisan atau layer yaitu:

-Sub base layer (Pondasi/coran) – Base course layer (Asphalt treat base-ATB) – Coarse layer (Asphalt hotmix)

Berikut adalah tahapan pada saat pembuatan jalan asphalt hotmix:

 

  1. Pemetaan jalan

Ini adalah tahap awal pada perencaan jalan asphalt dimana dilakukan pengukuran badan jalan, lebar jalan, ketinggian dan elevasi jala diukur sesuai dengan rencana jalan asphalt yang akan dibuat.

  1. Clearing & Grubbing

Proses ini membersihkan area jalan yang akan dibuat dari pohon, sampah atau benda lainnya yang menghalangi sehingga lahan dibebaskan dan siap untuk didibentuk

  1. Stripping

Pada tahap ini ukuran jalan, elevasi serta ketinggian disesuaikan sehingga pada proses ini lahan digali atau diurug sehingga mendapatkan elevasi atau ketinggian yang diinginkan. Alat yang digunakan untuk mengukur level dan elevasi tanah adalah theodolite.

  1. Sub grade

Sebelum dipasang pondasi bawah, tanah dipadatkan dahulu dengan menggunakan bulldozer atau vibrator roller.

  1. Sub base course

Setelah tanah dipadatkan, selanjutnya dihampar material pondasi bawah jalan berupa batu kali atau limestone dan diratakan dengan mesin tamdem roller.

  1. Base coarse

Pada tahap ini ditambahkan prime coat untuk mengikat antara lapisan dasar dan ATB (Asphalt treated base).

  1. Hotmix wearing coarse (Lapisan atas ATB)

Material asphalt jenis ATB (Asphalt Treated Base) atau asphalt kasar dihamparkan dengan mesin finisher lalu dipadatkan dengan mesin tandem roller. Setelah itu ditambahkan cor tack coat yaitu lem perekat antara ATB dengan asphalt hotmix.

   ATB

 Proses cor tack coat sebelum diberi lapisan asphalt hotmix

  1. Surface coarse

Pada tahap ini lapisan akhir asphalt berupa Asphalt hotmix atau asphalt halus dihamparkan menggunakan mesin finisher lalu dipadatkan menggunakan mesin roller. Untuk ukuran kecil menggunakan mini roller.

   Texture partakel Asphalt hotmix yang lebih halus

  1. Finishing

Pekerjaan finishing jalan asphalt dilakukan pemadatan dan perataan jalan dengan menggunakan roller pneumatic atau hidrolik.

Posted on Leave a comment

Perawatan Genset (Generator Set)

Genset adalah sumber listrik cadangan yang digunakan ketika supply listrik dari pemasok utama (PLN) terputus atau terganggu. Genset umumnya disediakan untuk tempat-tempat yang melayani fasilitas umum atau public atau tempat yang dibutuhkan untuk menjaga kontuinitas aliran listrik seperti rumah sakit, gedung bertingkat, industry, cold storage atau pada area yang tidak terjangkau pasokan listrik seperti area proyek disuatu lokasi tertentu.

diesel_generator

Kapasitas genset mulai dari yang paling kecil mulai dari kilo Watt hingga Mega watt

Menurut jenis genset nya:

  1. Genset portable atau stationer
  2. Daya terpasang: Genset mini < 1 kw dan Residential & Aplikasi industry hingga MW
  3. Bahan bakar : Diesel, gasoline, bensi, solar
  4. Silent / No silent
  5. Dll

Prinsip kerja genset sama dengan generator yaitu mengubah energi mekainik yang dihasilkan dari pergerakan mesin rotor yang menginduksikan medan magnet pada alternator energi mekanik diubah menjadi energi listrik.

Bagian2 utama dari genset:

diesel-generator-6-638

indoor-genset

  1. Mesin
  2. Alternator
  3. Sistem bahan bakar
  4. (VR) Voltarge Regulator
  5. Sistem pendinginan dan exhaust
  6. Sistem pelumasan
  7. Accu
  8. Charger battery
  9. Panel Control
  10. Casing (Rumah genset)

Mesin:

Pada mesin terjadi proses pembakaran dan menggerakan silinder piston sehingga shaft dapat diputar. Selanjutnya shaft yang berputar dihubungkan ke Alternator.

Alternator

Bagian yang menghasilkan listrik. Terdapat komponen stator (diam) dan rotor (bergerak). Rotor akan menghasilkan medan magnet yang bergerak disekitar startor, yang menginduksikan tegangan perbedaan antara gulungan stator. Ini akan menghasilkan arus bolak-balik (AC) output dari generator.

Sistem Bahan bakar

Tangki bahan bakar dipasang pada casing genset untuk aplikasi tertentu terinstal tangki bahan bakar external. Aturan untuk penyimpanan tangki bahan bakar harus mengikuti aturan atau regulasi disuatu tempat.

Bagian dari system bahan bakar:

  • Sambungan pipa dari tangki bahan bakar ke mesin
  • Pompa bahan bakar mentransfer bahan bakar dari tangki utama ke tangka mesin
  • Fuel filter, memisahkan air dan benda asing dari bahan bakar untuk melindungi komponen lain dari generator dari korosi dan kontaminasi
  • Fuel injector, menginjeksikan jumlah bahan bakar yang diperlukan ke ruang bakar mesin

Voltage Regulator

Komponen ini akan mengatur tegangan output yang diperlukan dari generator. Misalkan untuk memerlukan tegangan output AC/DC, 480V atau 220V. Komponen pada VR terdiri dari exciter winding, rectifier.

Sistem pendinginan dan exhaust

Medium pendinginan terdiri dari air atau hidrogen akan mentransfer panas dalam sirkit pendingin. Bisa juga system pendinginan primer terdiri dari radiator dan kipas.

Pada standar NEC, generator ditempatkan pada area terbuka atau ruangan yang memiliki ventilasi udara yang cukup. Minimal terdapat ruangan 3m disisi luar generator untuk memastikan aliran udara pendingin.

Exhaust

Exhaust berfungsi membuang hasil pembakaran berupa karbon dioksida keluar ruangan atau ke udara bebas. Asap pembakaran dialirkan dengan pipa knalpot yang terpasang dimesin dengan konektor fleksibel. Aturan pembuangan pembakaran motor harus memenuhi standar regulasi daerah setempat.

Sistem Pelumasan

Generator tediri dari mesin yang memiliki komponen yang bergerak atau berputar sehingga diperlukan pelumasan. Oil pelumas harus diperiksa setiap 8 jam operasional dan dipenggantian minyak pelumas setiap 500jam operasional. Harus dicek apakah ada kebocoran dari pelumas.

Accu/Charger battery

Control Panel

Control panel ini memiliki tombol untuk mengatur outlet listrik dan pengontrolan. Pada control panel terdapat beberapa fungsi umumnya:

  1. Saklar – switch manual atau otomasi, pilihan ini digunakan apakah generator on secara manual atau otomatis. Switch otomatis generator akan ON secara otomatis ketika supply listrik dari pemasok utama terputus. Waktu yang diperlukan untuk switching 1 – 20 detik.
  2. Alat pengukur Engine- Dapat membaca parameter penting seperti tekanan minyak, suhu pendinginan, tegangan bateri, speed mesin, durasi operasi, dll.
  3. Alat pengukur electric – Meteran untuk mengukur arus dan tegangan, frekwensi operasi

Casing

Pada generator digunakan casing untuk melindungi komponen generator dari gangguan luar serta juga berfungsi untuk meredam suara dari generator (Silent generator)

Cara pengoperasian generator:

Before start:

Cek bahan bakar (posisi kran harus on dan terbuka ke mesin), oli mesin, air radiator, air accu apabila kurang ditambahkan

Cek kabel R-S-T-N apakah terpasang sudah sesuai

Cek kabel accu apakah sudah terpasang dengan benar. Warna merah positif (+) dan hitam negative (-)

Buka box panel dan naikkan MCB

Saat running

  1. Nyalakan mesin tanpa beban kurang lebih 10 menit
  2. Periksa parameter semua alat ukur engine dan listrik apakah sudah dalam keadaan baik ketika mesin dalam posisi hidup.
  3. Ketika semua diperiksa sudah tidak ada masalah generator dapat digunakan untuk mensupplay arus listrik ke beban.
  4. Nyalakan beban satu per satu.

Shutdown

  1. Matikan beban terlebih dahulu dan turunkan MCB. Tunggu hingga 5 menit untuk mesin cooling down setelah itu baru matikan mesin.
  2. Mematikan secara mendadak dapat merusak komponen seperti AVR.

Pemeliharaan dan Perawatan Genset

Pemeliharaan dan perawaran genset dilakukan secara berkala daily, weekly, monthly, 6 monthly hingga tahunan.

Items yang dicover ketika preventive maintenance:

Fuel system –> fuel, pipa, filter dan injection equipment adalah item yang sering dicek pada system pembakaran.

Batteries –>  kondisi battery, sambungan dan air accu dicek secara berkala

Coolant (pendingin) à Cek kebocoran atau cairan pendinginan yang tidak sesuai dapat membuat mesin overheat

Filters –> Filter berfungsi untuk mencegah kontaminan masuk ke system yang dapat menghasilkan failure atau mengurangi performa mesin.  Pada program maintenance dipastikan udara, fuel dan oil filter diinspeksi dan diganti ketika diperlukan.

Contacts switch –> contact pada electrical control system harus dicek berkala. Kontak yang kurang baik akan menyebabkan panas berlebih, percikan api (spike), atau deposit carbon hingga menyebabkan kontak gagal.

Connection/sambungan –> Memastikan sambungan hoses, sambungan bahan bakar, pipa, connection electrical tersambung dengan baik.

Korosi –> cek korosi pada wiring, piping, fixtures, dan komponen lainnya.

Mekanikal –> Cek komponen seperti belt, puller, vibration, fitting , tightening, korosi, keausan dan stress dari komponen mekanial

Terlampir contoh jadwal preventive maintenance genset:

pm genset1

Posted on Leave a comment

Pembuatan conveyor modular untuk transfer barang

Conveyor berfungsi untuk memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat lain.

Untuk pembuatan conveyor ada beberapa faktor yang dipertimbangankan untuk menentukan jenis conveyor yang dipakai, salah satunya karakter barang
yang akan dipindahkan seperti jenis, dimensi, berat, jarak dll.

Contoh pembuatan conveyor dengan bahan aluminium untuk memindahkan barang
dengan berat 5-10 kg dengan dimensi 20x20cm.

Bagian conveyor:

1. Tray conveyor, terdiri dari jenis: modular, belt

2. Rangka conveyor, terdiri dari:
-Support tiang/kaki
-Rumah modular/belt conveyor
-Relling
-Support relling

 

3. Driver:
-Motor AC
-Gear box
-Kedudukan plate gearbox
-Shaft motor

4. Kontrol
-Listrik panel motor
-Kabel/wiring
-Tray kabel
-Saklar/Emergency stop

  
Alat kerja yang dipersiapkan:
1. Alat bending plate/aluminium
2. Alat potong aluminium
3. Alat bor aluminium, bor beton
4. Kunci pas, kunci L
5. Kracker
Rangka conveyor dapat ditekuk dan dibentuk seperti, belokan, naik , turun. Rumah conveyor disambung dengan menggunakan plate penyambung
Bagian kuncian sambungan conveyor menggunakan mur/baut atau kunci L.

Setelah conveyor dipasang perlu dicek streng/ketegangan dari modular dapat dilakukan dengan cara dipotong atau ditambah tensioner.

Brand pembuat komponen atau part conveyor: Flexline, Modu, dll

Posted on Leave a comment

Jenis pondasi bangunan

Pondasi lantai rumah menjadi bagian penting yang harus dipertahikan, karena
berfungsi memikul beban sebuah bangunan.
Pondasi yang tepat akan membuat kondisi struktur rumah tetap stabil,
tidak mengalami penurunan yang membahayakan rumah. Pondasi yang kokoh
juga akan memberikan rasa aman dan nyaman.
Tidak membuat bangunan retak2 karena ada penurunanan pondasi yang menyebabkan
bangunan miring.
Dan menjaga ketika terjadi gempa.

Sebelum menentukan jenis pondasi, perlu diperhatikan kondis tanah.

Apakah jenis tanah keras atau lunak
Untuk mengetahui kondisi tanah harus dilakukan sondir test.
Pondasi rumah 1 lantai

1. Biasanya dapat menggunakan pondasi batu kali atau pondasi bata
Pondasi ini digunakan untuk bangunan-bangunan sederhana pada tanah asli yang cukup baik.
Biasanya kedalamannya antara 60-80 lebar tapak sama dengan tinginya. Kebuthan bahan bakun
untuk pondasi ini adalah batu belah ( batu kali/gunung), Pasir pasang, dan semen PC
(semen abu-abu).

 

Kekurangan pondasi ini jika kedudukan pondasi diatas tanah lunak, yang beresiko pondasi
retak yang mengakibatkan penurunan pondasi hingga dinding bangunan ikut retak

Pondasi rumah 2 lantai

1. Menggunakan pondasi tapak/foot plat
Biasanya pemasangan pondasi tapak di kedalaman 50 cm hingga 2 meter dari permukaan tanah,
tapi jika lapisan tanah kerasnya terletak dikedalaman lebih dari 2 meter baiknya di bantu
dengan pondasi strauss pile.

2. Pondasi cakar ayam
Pondasi rumah 2 laintai cakar ayam merupakan pondasi yang terdiri dari pelat beton bertulang
dengan ketebalan 10-12 cm. Pondasi cakar ayam dapat digunakan pada segala jenis kondisi tanah
mulai dari paling keras sampai yang paling lunak.


Pondasi rumah 3 lantai atau lebih

1. Jenis kombinasi pondasi foot plate atau pile cap
dengan ditambah tiang panjang dengan metode
strauss pile atau bore pile atau paku bumi (untuk bangunan banyak lantai)

Strauss pile:
Jenis pondasi yang paling sering digunakan untuk pondasi bangunan 2 lantai dan 3 lantai
dalam 3 tahun terakhir karena pondasi ini bertumpu di tanah dalam sehingga dianggap mampu
menahan beban bangunan yang berdiri di atas tanah lunak, serta dari segi pembuatannya yang
bisa dibilang praktis dan efisien

Pada dasar dan fungsinya pondasi bor pile dan pondasi strauss pile sama yaitu meneruskan
beban-beban diatasnya kelapisan tanah dasar yang lebih keras, cara pembuatannya juga sama
yaitu tanah di lobangi dengan cara di bor kemudian dimasukkan besi tulangan yang sudah
diinstall lalu dilakukan pengecoran. Yang membedakan kedua pondasi tersebut adalah pada
metode kerja dan kapsitas kerja.

Bored pile dengan menggunakan alat bor mesin (mini crane) dapat mencapai kedalaman hingga10 -25 meter
dengan diameter 30 – 60 cm
Strauss pile dikerjakan dengan tenaga manual atau tenaga penggerak mata bor merupakan
tenaga manusia (kedalaman rata-tata 6 meter) dengan diameter antara 20 – 30 cm

Posted on Leave a comment

Plafond interior dengan design elegan

Dalam sebuah bangunan plafond digunakan sebagai penutup langit-langit atap atau dak lantai
yang didesign menarik sehingga memberikan kesan keindahan,elegan dan juga memberikan
rasa aman ketika berada dibawah nya.

Bagian plafond terdiri dari:
1. Rangka plafond ( rangka baja ringan, rangka hollow/galvanis, rangka kayu)
2. Papan plafon terbuat dari gypsum, triplex
saat ini rumah modern pada umumnya memasang plafon papan gypsum.
3. Tempat gantungan lampu

Langkah pembuatan plafond:
1. Persiapan
Persiapkan alat kerja dan bahan, alat kerja yang harus disiapkan adalah:
1. Stager atau tangga
2. Mesin bor, mesin potong/grinda tangan
3. Water pass
4. Benang ukur

Bahan:
1. Material rangka baja plafond (kanal C, siku)
Plafond rangka galvanis (elephant, knauff, Aplus)
Plafond rangka baja ringan (Tasso, Cbm, Aplus)
2. Skrup, hanger/gantungan
2. Papan gypsum
3. Tambahan: Lem, dompol cat

2. Pembuatan
Rangka plafond merupakan sebagai tempat penyangga dari papan plafond atau support.
Dalam memasang rangka palfond dengan menggunakan metal furing/hollow atau baja ringan membutuhkan ketelitian serta bahan dan alat serta cara yang benar.

Ranka plafond yang menggantung dilangit-langit bangunan
ditahan dengan mengunakan rangka penggantung atau /brakcet/hanger yang dibor kedak langit-langit bangunan

Pemasangan support rangka:
A. Penyagga dinding                                                                                                                           Pemasangan penyangga rangka di bagian dinding bangunan. Bagian rangka didibor dan dibaut/skrup kebagian dinding sepanjang keliling dinding dengan jarak skrup setiap 40 cm.
Dapat menggunakan siku metal atau kanal C.

B. Penyangga penggantung
Besi bracket (angle clips) dan kawat penggantung (rod hanger) yang paling umum digunakan
dalam suspended ceiling. contoh pemasangan bracket dan hanger:


cara pasang:
-Besi bracket / angle clips dipasang pada dak beton menggunakan paku ramset dengan jarak
120 x 120 cm
-Ujung kawat digantungkan pada angle clip
-U clamp dipasang ke ujung bawah kawat penggantung

-Atau hanger dapat langsung dipasangkan/dikaitkan kebagian siku yang sudah dibor ke dak beton
dan bagian ujung hanger dikaitkan ke bagian rangka hollow C atau T/H Bar

(sumber gambar: www.ilmusipil.com)
Jarak hanger/gantungan minimal setiap 1 m agar kuat dan terjamin menahan beban rangka plafond.

Cek kelurusan rangka secara keseluruhan.

 (sumber gambar: www.ilmusipil.com)
Pemilihan model atau motif rangka plafond:
Selanjutnya, rangka plafond dibentuk sesuai dengan model atau motif plafond yang diinginkan,
kemudahan menggunakan rangka baja ringan adalah bagian rangka dapat dibentuk dan ditekuk
melingkar melengkung atau model dome sesuai pola yang diinginkan.
Bagian pola rangka ini harus saling mengikat dan menyambung dengan bagian rangka
lainnya.

Contoh rangka plafond:
3. Pemasangan papan plafond (gypsum)
Setelah pola rangka terbentuk langkah selanjut nya, memasang papan gysupm dengan cara diskrup ke rangka.


4. Finishing

-Setelah semua papan gypsum terpasang rapikan sambungan dengan dompol cat/nut hingga rata.
-Pemasangan lampu:
Lampu dapat dipasangan dengan melobangi papan gypsum untuk memasukkan fitting lampu,
atau agar didapatkan kesan cahaya yang menarik dapat dipasang lampu LED strip disekeliling
pola plafond sehingga ada kesan cahaya keluar dari lekukan pola plafond.
-Pengecatan:
Plafond dapat dicat dengan warna yang berbeda sesuai dengan kesan yang diinginkan.

Hasil akhir:
Bila anda tertarik untuk memasang plafond silahkan hubungi JASABANGUNAN

Posted on Leave a comment

Perancangan sistem tata udara (HVAC)

Pengkondisian udara diperlukan untuk mengatur suhu, kelembaban, kebersihan dan pendistribusiannya sehingga udara dalam ruangan atau gedung dapat terjaga kualitas nya dan mencapai kondisi nyaman bagi orang yang berada diruangan tersebut

Hal yang harus diperhatikan dalam perancangan sistem tata udara adalah:

1. Temperature pendinginan yang diinginkan
2. Tingkat humidity
3. Beban pendinginan terdiri dari: Volume ruangan, Jumlah orang, Peralatan yang ada
6. Jenis mesin pendinginan yang akan digunakan (AC central: Chiller, Split)
7. Perancangan saluran pendinginan (AHU, ducting)
Beban pendinginan:

Adalah jumlah panas yang dipindahkan oleh sistem pengkondisian udara.

Beban pendinginan suatu ruang berasal dari dua sumber, yaitu melalui sumber eksternal dan sumber internal

1) Sumber panas eksternal antara lain:
-Radiasi surya (panas matahari) yang ditransmisikan melalui kaca
-Radiasi surya (panas matahari) yang ditransmisikan melalui atap, dinding
-Panas konduksi dan konveksi melalui pintu dan jendela akibat perbedaan temperature
-Panas oleh udara akibat pembukaan pintu/jendela, celah-celah jendela
-Panas karena ventilasi

2) Sumber panas internal:
-Panas dari aktivitas orang/penghuni
-Panas dari lampu atau peralatan listrik lainnya

Dalam sistem AC dikenal 2 macam panas, yaitu:
1. Panas sensible yaitu panas yang menyebabkan perubahan temperature tanpa perubahan fase. Umumnya semua yang berasal dari panas internal dan eksternal. contoh panas sensibel:
-Transmisi panas dari bangunan lewat atap, dinding, kaca, jendela, dll
-Panas dari lampu, peralatan
-Panas dari penghuni

2. Panas laten yaitu panas yang menyebabkan perubahan fase tanpa menyebabkan perubahan temperature.
Contoh panas laten:
-Panas dari penghuni ruangan
-Panas ventilasi/filtrasi dari kelembaban udara dalam dan luar

Dalam kenyataannya kalor yang masuk kedalam gedung tidak tetap, karena faktor-faktor yang mempengaruhi kalor tersebut juga berubah-ubah, sebagai contoh:
-Temperature udara luar nilainya merupakan fungsi waktu, maksimum disiang hari rendah dipagi dan sore hari, minimum dimalam hari.
-Jumlah penghuni yang tidak tetap (variable orang)
-Peralatan listrik sebagai sumber panas yang nyala diwaktu tertentu (utilisasi)

Dasar perhitungan beban pendinginan dilakukan dengan dua cara:
1. Perhitungan beban kalor puncak (total peak load)
2. Perhitungan beban kalor sesaat

Rumus dan cara perhitungan beban pendinginan (Cooling load)

  • Sumber  panas internal:

1. Penghuni ruangan:
a) Beban panas sensible: Qso = n x SHG x CLF
b) Beban panas laten: Qlo = n x LHG
Dimana,
n = jumlah orang
SHG=Sensible heat gain per orang
LHG=Laten heat gain per orang
CLF=Cooling load faktor, assumsikan 1 jika ruangan tidak dimaintain konstant selama 24 jam

Lihat Tabel SHG dan CLF dalam watt

2. Field heat
Beban kalor yang dibawa produk yang akan didinginkan atau disimpan
Q= m Cp delta T
m=berat dari produk (kg)
Cp=panas jenis produk
delta T=perubahan suhu

3. Lampu penerangan
a) Beban sensible – Qsl = input x n x CLF
Input: Total watt lampu
n : jumlah lampu terpasang
CLF diasumsikan 1 jika lampu dinyalakan terus menerus selama 24 jam.

4. Peralatan listrik/appliance
Beban sensible: Qsp = Heat gain x CLF
5. Ventilasi dan filtrasi
a)Beban sensible : Qsv = 1,23 x Q x delta T
b)Beban latent: 3010 x Q x delta W

  • Sumber panas eksternal:

1. Sinar matahari:
Q = A x SC x SHGF x CLF
Q = U x A x delta T

dimana,

A = luas area
SC=shading coefficient (lihat tabel)
adalah faktor pengurang panas pada kaca yang dilapisi isolasi (absorb panas) nilai 0,2 (contoh: kaca reben) – 1 (tanpa isolasi panas)
SHGF = solar heat gain factor, area timur khatulistiwa biasa berkisar 500 – 800 w/m2 (lihat tabel)
CLF=Cooling load factor
U = koefesien perpindahan panas
A = Luas permukaan
delta T = perbedaan suhu dalam dan luar ruangan
2. Dinding dan atap:
Q = U x A x CLTD, dimana:
U = koefesien transfer panas keseluruhan eksternal dinding dan atap (nilainya antara 2-4)
A = Luas area
CLTD= Cooling load temperature difference (lihat tabel)

3. Kaca:
Q = U x A x CLTD, dimana:
U = koefesien transfer panas keseluruhan eksternal jendela kaca nilai nya berkisar 3-6
A = Luas area
CLTD= Cooling load temperature difference (lihat tabel)

CLTD merupakan perbedaan temperatur dalam ruangan dan temperature luar,
peak tertinggi disiang hari yaitu jam 2 siang dimana temperatur luar 39 sedangkan temperature dalam 25
CLTD = 39 – 25 = 14

Sumber panas lain (service load)
adalah panas lain yang timbul dalam proses operasi pendinginan seperti kipas, operator,
udara luar ketika pintu dibuka, motor listrik, panas infiltrasi dari penyekat dan rak pendingin.
(Besar service load sekitar 10% dari total konduksi panas)

AHU & Ducting

Ducting berfungsi menyalurkan udara yang telah dikondisikan dari mesin AHU (Air handling unit)
ke seluruh ruangan. Sedangkan AHU mendapatkan supply media pendinginan dari chiller.

Desain dan struktur kontruksi ducting:
-Ditempatkan pada struktur bangunan dengan menempel atau menggantung pada ceiling
-Desain struktur bangunan ceiling atau dinding harus kuat menahan beban ducting
-Ducting dari bahan yang kuat, tidak menimbulkan bunyi
-Tahan aliran udara , dan tidak ada kebocoran
-Contoh material ducting dipasaran:
1. Galvanized steel
2. Polyrethane duct board / preinsulated aluminium ducts)
3. Fiberglass duct board (preinsulated non metalic ductwork)
4. Flexible tubing

Perhitungan supply udara:
A = Cfmsa / V u
A = Luas duct (m2)
Vu = Kecepatan aliran udara (m/s)
Cfmsa = Jumlah udara supply (m3/s)

return ducting, berfungsi untuk mengalirkan udara balik dari ruangan yang telah
dikondisikan kembali ke AHU:
A = Cfmra/Vu;
Cfmra=Jumlah udara balik (m3/s)

Langkah-langkah dalam perancangan dan pemilihan komponen sistem tata udara:

1.Hitung beban pendinginan (Data beban)
2.Perhitungan Psikometric chart
3.Perhitungan pressure drop air flow
4.Perhitungan dimensi ducting
5.Pemilihan sistem AC

Contoh perhitungan pengkondisian udara pada sebuah bangunan terdiri dari 3 lantai.

pb1

pb2
pb3Perhitungna exhaust fan (sirkulasi udara):
Exhaust fan dipasang untuk mengatur sirkulasi udara diruangan. Ada dua macam keluaran exhaust fan:
1. Udara dikeluarkan ke luar gedung melalui ducting
2. Udara dari exhaust fan dikembalikan ke AHU (return air) untuk disaring dan dikirimkan kembali keruangan

Beberapa vendor juga sudah memiliki exhaust fan dan supply fan diunit AHU yang sama.
Perhitungan air sirkulasi CFM (cubic feet minutes) berdasarkan volume ruangan dan rating air sirkulasi
(frekwensi/jam) yang disyaratkan untuk masing-masing ruangan.

Ada 2 jenis ventilating fan: wall ventilating fan dan ceiling ventilating fan. Ceiling ventilating fan
dipasang diatas platfond dan memiliki pipa ducting untuk meneruskan udara keluar ruangan atau dikembalikan
ke return air diAHU untuk difilter dan disalurkan kembali ke ruangan. Untuk memakai ceiling ventilating fan
perlu mempertimbangkan besarnya hambatan atau statik pressure karena panjang nya salurang pipa ducting dan
juga karena ada belokan sehingga pemilihan CFM harus lebih besar dari perhitungan untuk menkompensasi faktor
hambatan tersebut.

Contoh pemilihan exhaust fan:

Tentukan kapasitas exhaust fan yang akan dipasang untuk sebuah ruangan hall dengan ukuran
(lebar) 10m x (lebar) 10m x (tinggi) 5m.

Konversi m ke feet (1 m = 3,28 feet)

Panjang = 10 m x 3,28  = 30,28 feet
Lebar   = 10 m x 3,28  = 30,28 feet
Tinggi  = 5m x 3,28    = 16,4 feet

Volume ruangan = 30,28 x 30,28 x 16,4 = 15036,80 cubic feet

standar rating flow rate untuk hall (lihat tabel) = 8 x / jam

Kapasitas exhaust fan = 15036,80 x 8 / 60 = 2004,97 CFM

Pilihan,
1 unit 2500 CFM
2 unit 1000 CFM (terpasang setiap jarak 5 meter)
4 unit 500  CFM (terpasang setiap jarak 2 meter)
Contoh menentukan ukuran AC split pada suatu ruangan:

1 PK = 1 HP = 735,5 watt
Suatu kamar dengan ukuran lebar 3 meter, panjang 3 m, tinggi 3m, ditempati oleh penghuni
2 orang. berapakah kapasitas AC yang diperlukan untuk pendinginan ruangan?
Hitung beban panas ruangan:

Beban panas radiasi bangunan:
Q = 9 x 2 x 10 (beda suhu luar dan dalam) = 180

Beban panas orang:
Q internal = 2 x  (60 (sensible) + 40 (laten) )  = 200

Total heat = 380 watt = 0,51 PK
Ukuran ac = 1/2 PK

pasang-ac

Posted on Leave a comment

Sambungan Baja WF

Saat membuat bangunan kontruksi baja WF sering kita menemukan ukuran panjang baja harus ditambah alias ada penyambungan.

Sambungan baja WF harus dilakukan secara seksama agar kekuatan sama atau lebih kuat dari kekuatan basisnya.

Sambungan baja WF sering kita jumpai pada rafter, voute atau ring balok baja.

Sambungan pada baja terdiri dari:
1. Sistem las
2. Sistem baut

Berikut cara penyambungan baja WF yang baik:
A. Sambungan sistem las:

1. Bagian dua sisi baja WF yang akan disambung dipotong lurus pada bagian badan sedangkan bagian bibir WF dipotong miring dengan kemiringan 45 deg.
2. Gerinda sampai bersih bagian potongan dan sedikit dibuat siku 90 deg dan sambungkan kedua sisi bagian baja hingga rapat, dan celah potongan miring 45 deg tadi digunakan sebagai tempat lasan.

Periksa kelurusan baja dari ujung ke ujung. Setelah benar-benar lurus, las tik (cantum) diposisi tengah sambungan, cantum diposisi bawah. cek kembali kelurusan plate, cara las lasan sedikit demi sedikit ini agar mudah digetok dan meluruskan Baja kembali.

Proses lasan yang baik dilakukan bertahap-tahap, setiap sekali las harus langsung dibersihkan bekas kotoran las dengan digetok-getok kecil dan dikuas. Lanjutkan pengelasan sampai semua bagian tersambung las dan bagian sudut tertutup lasan hingga penuh.

3. Siapkan plate sambungan:

Siapkan plate sambungan masing-masing 2 lembar untuk atas bawah kanan dan kiri. Potongan dibersihkan dengan digerinda dari bekas potongan. Tempelkan plate pada tempat sambungan dan dilas tik (cantum) tiap sambungan. Cek jika baja WF sudah pasti lurus las full semua bagian plate pada sambungan WF. Contoh gambar penyambungan dengan dipotong dan dilas:

sambungan-wf1

B. Sambungan sistem baut
Pada sambungan sistem baut, bagian masing2 sambungan dibuatkan lobang untuk baut. Baut yang digunakan pada sambungan baja harus jenis HTB (High tension bolt) baut dengan kekuatan yang lebih tinggi dari baut biasa.

Plate sambungan juga dibuatkan titik untuk lobang baut, mengikuti dari gambar kerja yang ada.

Contoh sambungan baja WF 400.200.8.13

sambungan-wf2

C. Sambungan voute
Seringkali ditemukan panjang baja dibagian voute nanggung atau kurang panjang, sehingga harus ditambah sambungan. Sambungan harus berada dalam area voute. contoh gambar sambungan:

sambungan-wf3

 

Posted on Leave a comment

Fabrikasi & erection pada kontruksi baja

Kontruksi baja pada bangunan saat ini sangat banyak dipakai dan diminati. Karena baja memiliki beberapa keunggulan,
antara lain dalam hal kekuatan, harga lebih bersaing, kecepatan dan kemudahan dalam pemasangan.

Fabrikasi baja kontruksi yang akan dipasang biasanya dilakukan diworkshop atau onsite (tempat dilakukan nya proyek).

Proses fabrikasi dan pemasangan kontruksi baja dilakukan sebagai berikut:
1. Material baja disiapkan
Material baja yang disiapkan sesuai dengan jenis, spesifikasi dan ukuran yang akan digunakan.
bagian Kolom dan kuda-kuda rafter memakai baja WF, gording menggunakan CNP, UNP, siku
dan branching rod, tie rod, plate sambungan, angkur, dll.

Material baja bisa didapatkan dari toko-toko baja terdekat.

Kualitas baja yang dipakai harus sesuai standar SNI dan sudah melalui uji ketahanan
uji leleh dan kekuatan yang disyaratkan.

Brand baja dipasaran antara lain dari KS (krakatau steel), Garuda, dll

2. Persiapan plate
Plate banyak dipakai sebagai simpul, sambungan, stifener. Ukuran plate dan ketebalan serta titik lobang baut menyesuaikan dengan gambar kerja.

Ukuran plate dan titik lobang baut harus benar presisi dengan menggunakan mal/penggaris supaya potongan plate lebih akurat.

Pemotongan:
Plate baja dipotong dengan menggunakan mesin gerinda potong, untuk ukuran baja WF yang besar sebaiknya menggunakan mesin gerinda potong duduk dengan diameter piring hingga 20″ atau lase cutting.

 

Setelah plate dipotong dan titik baut sudah ditandai, selanjutnya siapkan mesin pons, bor kecil dan bor utama untuk membuat lobang baut pada plate. Bagian titik dibor dengan bor kecil (misal 5mm) baru dilanjutkan menggunakan bor utama sesuai diameter baut (misal 16mm).

Setelah pemotongan dan pembuatan lobang baut selesai bersihkan plate dan haluskan dengan digrinda atau diamplas bagian sisa potongan plate sehingga tidak tajam.

3. Persiapan rafter, kolom
Ukuran WF dipasaran biasanya berbeda dengan panjang bentangan atau tinggi kolom pada kontruksi baja yang akan dipasang nantinya.

Maka baja yang ada harus dipotong sehingga sesuai dengan ukuran dari gambar kerja. Bagian yang akan dipotong diukur dengan mal/jangkar secara akurat dan presisi sehingga tidak mengalami kesalahan setelah dipotong. Jika terjadi kesalahan mengakibatkan kerugian biaya yang cukup besar.

3. Settingan
Bagian batang baja dan plate yang sudah disiapkan dari proses sebelumnya, selanjutnya sambungkan dan setting bagian-bagian tersebut sehingga hasilnya sesuai bentuk, jarak dan ukuran pada gambar kerja. Hasil pemasangan yang dilakukan dilantai kerja harus benar-benar sudah tepat dan presisi. Yang harus diperhatikan saat pemasangan dan settingan:
1. Tidak boleh ada kemiringan/sudut, panjang melebihi atau kurang
2. Dudukan plate, gordeng dan maupun balok anak tidak miring

Lakukan adjustmen kembali jika ada kekurangan pada saat penyambungan.

4. Pengelasan
Las baja menggunakan trafo las listrik dengan diameter kawat 3.2mm dan 4.0mm
Spesifikasi las trafo listrik yang disarankan:
Voltase: 380 3 fase
Daya listrik: 2000 – 12000 Hz
Arus input: 26 A
Arus output: 40 -400 A
Ukuran socket: 50 mm
Duty cycle: 60%

Cara pengelasan:
– Bersihkan bagian yang akan dilas dari kotoran atau debu.
-Tebal las disesuaikan dengan beban kontruksi
– Setelah pengelasan bersihkan sisa lasan dan dihaluskan
5. Erection (pengangkatan)
Adalah proses pengangkatan bagian rangka baja seperti kuda-kuda/rafter, kolom yang sudah disambung dan disetting diangkat untuk dipasang dibagian atas kontruksi untuk difitting dengan bagian lainnya (kolom-rafter-kuda-kuda, branching, tie rod dll).

Bagian kolom pertama kali diangkat dan dipasang setelah itu bagian rafter dan gording.

Proses pengangkatan kontruksi baja:

Untuk beban baja lebih dari 1 ton dan ketinggian lebih dari 10 meter maka pengangkatan kontruksi Baja sebaiknya menggunakan alat angkat berat seperti hoist, crane/mobile crane, karena lebih safety dan lebih mudah.

 

Beban dibawah 1 ton dengan ketinggian kolom 6m, dapat menggunakan lifting equipment seperti chain block, hoist yang memiliki daya angkat dari 5 ton.

chain-block       

Cara pembuatan chain block frame:
1.Buat as untuk tempat dikaitkan box katrol dengan ketinggian minimal 1 meter diatas tinggi kolom yang akan dipasang. As dapat dibuat beam yang ada atau menggunakan pipa dengan diamter 5″-6″ tebal 6mm yang disambungkan hingga ketinggan tersebut. Bagian ujung pipa dilas plate (tebal 15mm) dan dilobang untuk mengaitkan box katrol
2. As ditegakkan dan bagian ujung pipa diikatkan dengan tali tambang goni (diameter 1″) masing-masing di 4 penjuru dan tali tambang tadi diikatkan pada batok yang kuat atau pada pedestal yang ada.

6. Fitting atau peyambungan diatas rangka:

rafter-fitting
Setelah rangka kuda-kuda/rafter diangkat keatas pakai catrol atau crane dan sampai diposisi nya pasang baut dan kencangkan sampai plate simpul rafter rapat dengan kolom. Selajutnya ujung rafter diikat pakai seling (12 mm) dan tarik ujung seling bagian bawah ke pedestal/batok. Tarik dengan dua arah kanan kiri untuk rafter dengan bentangan panjang. Contoh bentangan 20 meter memakai 4 penjuru kearah kanan 2 penjuru dan kiri 2 penjuru. Pastikan semua ikatan kuat dan rafter tidak goyah. Setelah rafter pertama naik dan terpasang diposisinya, naikkan rafter kedua dengan cara yang sama dan langsung dipasang atau diikat pakai gording pada beberapa titik terutama dibagian atas nok rafter. Begitu seterusnya sehingga semua bagian rafter dan gording sudah naik dan terpasang diatas kolom.

Selanjutnya pasang branching/ tie rod sebagai pengikat rafter. Setelah semua braching terpasang dengan baik dan sudah disetting tarikan nya baru setelah itu seling boleh dilepas. Harus diingat jangan melepas seling sebelum branching terpasang dengan baik. Karena braching sebagai pengikat kontruksi kuda-kuda/rafter, jika tidak terpasang dengan baik rafter akan goyang, miring dan roboh sehingga dapat merugikan dan membahayakan keselamatan.

7. Finishing:
Finishing adalah proses pembersihan, pengecekan dan pengecatan dari kontruksi baja yang sudah disambungkan pengecatan mulai dari cat dasar dan cat vanishing. Sebaiknya pengecetan dilakukan dilantai kerja sebelum proses erection (pengangkatan) karena dilakukannya lebih mudah dan lebih aman.

Posted on Leave a comment

Instalasi Plumbing air buangan

Sistem pembuangan terdiri dari:
1. Sistem campuran, adalah pembuangan air kotor dan air bekas dikumpulkan dan dialirkan ke dalam saluran yang sama
2. Sistem terpisah, dalah pembuangan air kotor dan air bekas dialirkan secara terpisah
Misal: pada perumahan sistem pembuangan air kotor dipisah dengan air bekas, sedangkan saluran buangan air bekas sama dengan saluran air hujan.

Klasifikasi plumbing pembuangan terdiri dari:
1. Instalasi plumbing air kotor
Adalah sistem instalasi buangan air kotor (black water) yaitu dari kotoran manusia  yang berasal dari kloset, urinal, dll

2. Instalasi plumbing air bekas
Adalah sistem air bekas buangan (grey water) yang berasal dari wastafel, sink dapur, bathtup atau disebut grey water. Untuk suatu area daerah yang tidak tersedia riol umum, maka instalasi
plumbing air bekas dapat digabungkan dengan instalasi air kotor terlebih dahulu.
3. Instalasi plumbing air hujan
Instalasi pembuangan air hujan harus terpisah dari sistem pembuangan air kotor maupun air bekas, untuk menghindari air balik masuk ke sistem plumbing terendah jika saluran buangan tersumbat. Saluran buangan air hujan dari pipa atap atau jalan, halam, taman bermuara pada sistem drainase got atau gorong2 melalui cabang2 (biasanya posisi gorong2 dibawah area pejalan kaki serta memiliki bak kontrol dan saringan pada tiap cabang air resapan. Pada jarak 5 meter terdapat cabang2 got air yang menuju drainase atau gorong2 bangunan dan pada tiap2 gorong
bangunan dialirkan ke gorong2 kota.Ukuran dari gorong2 disesuaikan dengan luas area dan curah hujan agar gorong2 dapat menampung air hujan dengan intensitas tinggi sehingga kecepatan alir air hujan lebih tinggi dan tidak membuat jalan tidak terjadi genangan air.
4. Instlasi plumbing khusus

Yaitu sistem instalasi pembuangan limbah berupa gas, racun, lemak, limbah pabrik, limbah rumah sakit dan lainya.
Untuk sistem pengolahan limbah khusus seperti WWTP, STP, dll

Contoh sistem plumbing air kotor dan bekas yang digabung pada bangunan bertingkat yang muaranya pada tangki septic.
Komponen plumbing air pembuangan terdiri dari:

1. Alat tempat pembuangan air kotor/bekas: closet, batchup, uriner, wastafel
2. Pemipaan (Pipa venting, close out)

3. Control: Check valve, perangkap, interceptor
4. Bak penampung dan septitank
5. Pompa pembuangan

Syarat lainnya:
1. Pada pipa yang dipasang horizontal harus memiliki kemiringan minimal 2 derajat agar air mudah mengalir kearea yang lebih rendah

2. Tidak boleh ada percabangan pada pemipaan yang ditanam ditanah, karena jika ada penyumbatan susah untuk perbaikannya.

3. Pada shaft pipa pembuangan vertikal (untuk bangunan bertingkat) harus dibuat cleanout dan fan out.

4. Jarak antara septic tank dan sumur air bersih harus minimal 10 meter. Agar sumur air bersih tidak tercemar.

5. Pipa ven out dipasang apabila instalasi saluran air kotor banyak percabangan pada shaft pembuangan. Pipa ven out berfungsi untuk menyalurkan udara bertekanan atau gas yang terjebak pada saluran pipa, misal saat closet diguyur dengan air. Pipa ven dipasang miring 1% atau 15 cm diatas muka air pipa plumbing.

Posted on Leave a comment

Perencanaan system plumbing

Mengacu kepada: SNI 03-7065-2004 (Tata cara perencanaan sistem plumbing)
Perencanaan sistem plumbing:
Perencanaan sistem plumbing untuk bangunan gedung dengan jumlah penghuni lebih dari 500 atau pengunjung lebih dari 1500 orang harus dilakukan dalam 4 tahap

1. Konsep rencana
2. Rencana dasar
3. Rencana pendahuluan
4. Rencana pelaksanaan
1. Konsep rencana

1.1 Data dan informasi awal

Data dan informasi awal yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Jenis/penggunaan hunian dan jumlah penghuni
2. Gambar rencana arsitektural gedung pada tahap konsep
3. Jaringan air minum dan fasilitas pembuangan air buangan kota
4. Peraturan yang berlaku umum maupun yang berlaku setempat

Data dan informasi akhir
1. Gambar tapak yang menunjukkan lokasi penyambungan dengan sumber air dan lokasi system pembuangan
2. Gambar denah yang menunjukkan tata letak alat plumbing, jenis dan jumlah nya ditentukan berdasarkan SNI 03-6481-2000, sistem plumbing
3. Perkiraan anggaran pembangunan sistem plumbing
4. Rencana jangka panjang untuk pelaksanaan pembangunan, konsep cara membangun, pembagian paket pekerjaan
5. Dokumen yang diperlukan untuk mengurus persetujuan prinsip membangun dari instansi yang berwenang dan pihak lain yang terkait.
6. Sumber air minum:
A) Dari pengelola air minum, kapasitas dan kualitas yang dapat dijamin
B) dari sumber air baku untuk air minum dengan perkiraan kapasitas dan kualitas yang dapat dijamin sepanjang tahun
7. Sistem pembuangan;
a)Ke Riol kota, kapasitas, arah dan jalur pembuangan, serta ijin dari instansi yang berwenang
b)ke instalasi pengolahan air buangan setempat
8. Perhitungan kasar mengenai, kebutuhan air minum per hari, banyaknya air buangan per hari dan kebutuhan daya listrik untuk sistem plumbing
2. Rencana dasar
Penyusunan rencana dasar, terdiri dari:
1. Perhitungan kebutuhan air minum berdasarkan perkiraan total hunian
2. Penentuan jaringan utama, jalur pipa, dan diagram sistem plumbing
3. Penentuan ukuran dan perkiraan berat tangki air bawah dan atau tangki air atas
4. Penentuan cara penumpuan dan penggantungan pipa utama
5. Penentuan alternatif sistem dan perlengkapannya, rencana dasar mesin-mesin utama yang diperlukan

Gambar dan dokumen
1. Gambar yang disiapkan meliputi:
a) diagram sistem plumbing
b) gambar denah ruang mesin dan tangki, yang menunjukkan ukuran kasa mesin dan tangki tersebut

2. Dokumen dalam bentuk laporan yang disiapkan sekurang-kurangnya meliputi:
a) penjelasan alternatif sistem dan perlengkepannya
b) hasil perhitungan sistem plumbing, ukuran kasar dan jalur pipa utama
c) perkiraan berat pipa dan isinya untuk informasi bagi perencana struktur gedung
d) kapasitas mesin-mesin yang diperlukan
e) perkiraan biaya pelaksanaan yang lebih rinci untuk sistem plumbing
f) spesifikasi bahan dan peralatan

3. Rencana pendahuluan
Perhitungan

Perhitungan yang dilaksanankan sebagai berikut
1) perhitungan untuk menentukan ukuran semua pipa cabang
2) perhitungan laju aliran air dalam pipa ditentukan dengan metode yang mengacu pada
SNI 03-6481-2000 tentang sistem plumbing

Gambar dan dokumen
1) gambar yang disiapkan sekurang-kurang nya meliputi:
a) diagram satu garis sistem persediaan air minum, penyaluran air buangan, ven dan air hujan
b) gambar denah jaringan pipa utama
c) gambar denah ruang mesin dan tangki, yang menunjukkan ukuran kasar mesin dan tangki tersebut
d) gambar detail potongan yang penting atau khusus

2) Dokumen dalam bentuk laporan yang disiapkan sekurang-kurang nya meliputi:
a) hasil perhitungan dan penentuan ukuran seluruh pipa
b) perkiraan biaya pendahuluan
c) perkiraan beban terhadap struktur gedung
d) perkiraan kebutuhan daya listrik

4. Rencana pelaksanaan
Dokumen rencana detail pelaksanaan yang harus disiapkan meliputi:
1) gambar detail pelaksanaan
2) perkiraan biaya pelaksanaan pembangunan sistem plumbing
3) spesifikasi lengkap
4) persyaratan umum pelaksanaan