Posted on Leave a comment

Perancangan sistem tata udara (HVAC)

Pengkondisian udara diperlukan untuk mengatur suhu, kelembaban, kebersihan dan pendistribusiannya sehingga udara dalam ruangan atau gedung dapat terjaga kualitas nya dan mencapai kondisi nyaman bagi orang yang berada diruangan tersebut

Hal yang harus diperhatikan dalam perancangan sistem tata udara adalah:

1. Temperature pendinginan yang diinginkan
2. Tingkat humidity
3. Beban pendinginan terdiri dari: Volume ruangan, Jumlah orang, Peralatan yang ada
6. Jenis mesin pendinginan yang akan digunakan (AC central: Chiller, Split)
7. Perancangan saluran pendinginan (AHU, ducting)
Beban pendinginan:

Adalah jumlah panas yang dipindahkan oleh sistem pengkondisian udara.

Beban pendinginan suatu ruang berasal dari dua sumber, yaitu melalui sumber eksternal dan sumber internal

1) Sumber panas eksternal antara lain:
-Radiasi surya (panas matahari) yang ditransmisikan melalui kaca
-Radiasi surya (panas matahari) yang ditransmisikan melalui atap, dinding
-Panas konduksi dan konveksi melalui pintu dan jendela akibat perbedaan temperature
-Panas oleh udara akibat pembukaan pintu/jendela, celah-celah jendela
-Panas karena ventilasi

2) Sumber panas internal:
-Panas dari aktivitas orang/penghuni
-Panas dari lampu atau peralatan listrik lainnya

Dalam sistem AC dikenal 2 macam panas, yaitu:
1. Panas sensible yaitu panas yang menyebabkan perubahan temperature tanpa perubahan fase. Umumnya semua yang berasal dari panas internal dan eksternal. contoh panas sensibel:
-Transmisi panas dari bangunan lewat atap, dinding, kaca, jendela, dll
-Panas dari lampu, peralatan
-Panas dari penghuni

2. Panas laten yaitu panas yang menyebabkan perubahan fase tanpa menyebabkan perubahan temperature.
Contoh panas laten:
-Panas dari penghuni ruangan
-Panas ventilasi/filtrasi dari kelembaban udara dalam dan luar

Dalam kenyataannya kalor yang masuk kedalam gedung tidak tetap, karena faktor-faktor yang mempengaruhi kalor tersebut juga berubah-ubah, sebagai contoh:
-Temperature udara luar nilainya merupakan fungsi waktu, maksimum disiang hari rendah dipagi dan sore hari, minimum dimalam hari.
-Jumlah penghuni yang tidak tetap (variable orang)
-Peralatan listrik sebagai sumber panas yang nyala diwaktu tertentu (utilisasi)

Dasar perhitungan beban pendinginan dilakukan dengan dua cara:
1. Perhitungan beban kalor puncak (total peak load)
2. Perhitungan beban kalor sesaat

Rumus dan cara perhitungan beban pendinginan (Cooling load)

  • Sumber  panas internal:

1. Penghuni ruangan:
a) Beban panas sensible: Qso = n x SHG x CLF
b) Beban panas laten: Qlo = n x LHG
Dimana,
n = jumlah orang
SHG=Sensible heat gain per orang
LHG=Laten heat gain per orang
CLF=Cooling load faktor, assumsikan 1 jika ruangan tidak dimaintain konstant selama 24 jam

Lihat Tabel SHG dan CLF dalam watt

2. Field heat
Beban kalor yang dibawa produk yang akan didinginkan atau disimpan
Q= m Cp delta T
m=berat dari produk (kg)
Cp=panas jenis produk
delta T=perubahan suhu

3. Lampu penerangan
a) Beban sensible – Qsl = input x n x CLF
Input: Total watt lampu
n : jumlah lampu terpasang
CLF diasumsikan 1 jika lampu dinyalakan terus menerus selama 24 jam.

4. Peralatan listrik/appliance
Beban sensible: Qsp = Heat gain x CLF
5. Ventilasi dan filtrasi
a)Beban sensible : Qsv = 1,23 x Q x delta T
b)Beban latent: 3010 x Q x delta W

  • Sumber panas eksternal:

1. Sinar matahari:
Q = A x SC x SHGF x CLF
Q = U x A x delta T

dimana,

A = luas area
SC=shading coefficient (lihat tabel)
adalah faktor pengurang panas pada kaca yang dilapisi isolasi (absorb panas) nilai 0,2 (contoh: kaca reben) – 1 (tanpa isolasi panas)
SHGF = solar heat gain factor, area timur khatulistiwa biasa berkisar 500 – 800 w/m2 (lihat tabel)
CLF=Cooling load factor
U = koefesien perpindahan panas
A = Luas permukaan
delta T = perbedaan suhu dalam dan luar ruangan
2. Dinding dan atap:
Q = U x A x CLTD, dimana:
U = koefesien transfer panas keseluruhan eksternal dinding dan atap (nilainya antara 2-4)
A = Luas area
CLTD= Cooling load temperature difference (lihat tabel)

3. Kaca:
Q = U x A x CLTD, dimana:
U = koefesien transfer panas keseluruhan eksternal jendela kaca nilai nya berkisar 3-6
A = Luas area
CLTD= Cooling load temperature difference (lihat tabel)

CLTD merupakan perbedaan temperatur dalam ruangan dan temperature luar,
peak tertinggi disiang hari yaitu jam 2 siang dimana temperatur luar 39 sedangkan temperature dalam 25
CLTD = 39 – 25 = 14

Sumber panas lain (service load)
adalah panas lain yang timbul dalam proses operasi pendinginan seperti kipas, operator,
udara luar ketika pintu dibuka, motor listrik, panas infiltrasi dari penyekat dan rak pendingin.
(Besar service load sekitar 10% dari total konduksi panas)

AHU & Ducting

Ducting berfungsi menyalurkan udara yang telah dikondisikan dari mesin AHU (Air handling unit)
ke seluruh ruangan. Sedangkan AHU mendapatkan supply media pendinginan dari chiller.

Desain dan struktur kontruksi ducting:
-Ditempatkan pada struktur bangunan dengan menempel atau menggantung pada ceiling
-Desain struktur bangunan ceiling atau dinding harus kuat menahan beban ducting
-Ducting dari bahan yang kuat, tidak menimbulkan bunyi
-Tahan aliran udara , dan tidak ada kebocoran
-Contoh material ducting dipasaran:
1. Galvanized steel
2. Polyrethane duct board / preinsulated aluminium ducts)
3. Fiberglass duct board (preinsulated non metalic ductwork)
4. Flexible tubing

Perhitungan supply udara:
A = Cfmsa / V u
A = Luas duct (m2)
Vu = Kecepatan aliran udara (m/s)
Cfmsa = Jumlah udara supply (m3/s)

return ducting, berfungsi untuk mengalirkan udara balik dari ruangan yang telah
dikondisikan kembali ke AHU:
A = Cfmra/Vu;
Cfmra=Jumlah udara balik (m3/s)

Langkah-langkah dalam perancangan dan pemilihan komponen sistem tata udara:

1.Hitung beban pendinginan (Data beban)
2.Perhitungan Psikometric chart
3.Perhitungan pressure drop air flow
4.Perhitungan dimensi ducting
5.Pemilihan sistem AC

Contoh perhitungan pengkondisian udara pada sebuah bangunan terdiri dari 3 lantai.

pb1

pb2
pb3Perhitungna exhaust fan (sirkulasi udara):
Exhaust fan dipasang untuk mengatur sirkulasi udara diruangan. Ada dua macam keluaran exhaust fan:
1. Udara dikeluarkan ke luar gedung melalui ducting
2. Udara dari exhaust fan dikembalikan ke AHU (return air) untuk disaring dan dikirimkan kembali keruangan

Beberapa vendor juga sudah memiliki exhaust fan dan supply fan diunit AHU yang sama.
Perhitungan air sirkulasi CFM (cubic feet minutes) berdasarkan volume ruangan dan rating air sirkulasi
(frekwensi/jam) yang disyaratkan untuk masing-masing ruangan.

Ada 2 jenis ventilating fan: wall ventilating fan dan ceiling ventilating fan. Ceiling ventilating fan
dipasang diatas platfond dan memiliki pipa ducting untuk meneruskan udara keluar ruangan atau dikembalikan
ke return air diAHU untuk difilter dan disalurkan kembali ke ruangan. Untuk memakai ceiling ventilating fan
perlu mempertimbangkan besarnya hambatan atau statik pressure karena panjang nya salurang pipa ducting dan
juga karena ada belokan sehingga pemilihan CFM harus lebih besar dari perhitungan untuk menkompensasi faktor
hambatan tersebut.

Contoh pemilihan exhaust fan:

Tentukan kapasitas exhaust fan yang akan dipasang untuk sebuah ruangan hall dengan ukuran
(lebar) 10m x (lebar) 10m x (tinggi) 5m.

Konversi m ke feet (1 m = 3,28 feet)

Panjang = 10 m x 3,28  = 30,28 feet
Lebar   = 10 m x 3,28  = 30,28 feet
Tinggi  = 5m x 3,28    = 16,4 feet

Volume ruangan = 30,28 x 30,28 x 16,4 = 15036,80 cubic feet

standar rating flow rate untuk hall (lihat tabel) = 8 x / jam

Kapasitas exhaust fan = 15036,80 x 8 / 60 = 2004,97 CFM

Pilihan,
1 unit 2500 CFM
2 unit 1000 CFM (terpasang setiap jarak 5 meter)
4 unit 500  CFM (terpasang setiap jarak 2 meter)
Contoh menentukan ukuran AC split pada suatu ruangan:

1 PK = 1 HP = 735,5 watt
Suatu kamar dengan ukuran lebar 3 meter, panjang 3 m, tinggi 3m, ditempati oleh penghuni
2 orang. berapakah kapasitas AC yang diperlukan untuk pendinginan ruangan?
Hitung beban panas ruangan:

Beban panas radiasi bangunan:
Q = 9 x 2 x 10 (beda suhu luar dan dalam) = 180

Beban panas orang:
Q internal = 2 x  (60 (sensible) + 40 (laten) )  = 200

Total heat = 380 watt = 0,51 PK
Ukuran ac = 1/2 PK

pasang-ac

Posted on Leave a comment

Sambungan Baja WF

Saat membuat bangunan kontruksi baja WF sering kita menemukan ukuran panjang baja harus ditambah alias ada penyambungan.

Sambungan baja WF harus dilakukan secara seksama agar kekuatan sama atau lebih kuat dari kekuatan basisnya.

Sambungan baja WF sering kita jumpai pada rafter, voute atau ring balok baja.

Sambungan pada baja terdiri dari:
1. Sistem las
2. Sistem baut

Berikut cara penyambungan baja WF yang baik:
A. Sambungan sistem las:

1. Bagian dua sisi baja WF yang akan disambung dipotong lurus pada bagian badan sedangkan bagian bibir WF dipotong miring dengan kemiringan 45 deg.
2. Gerinda sampai bersih bagian potongan dan sedikit dibuat siku 90 deg dan sambungkan kedua sisi bagian baja hingga rapat, dan celah potongan miring 45 deg tadi digunakan sebagai tempat lasan.

Periksa kelurusan baja dari ujung ke ujung. Setelah benar-benar lurus, las tik (cantum) diposisi tengah sambungan, cantum diposisi bawah. cek kembali kelurusan plate, cara las lasan sedikit demi sedikit ini agar mudah digetok dan meluruskan Baja kembali.

Proses lasan yang baik dilakukan bertahap-tahap, setiap sekali las harus langsung dibersihkan bekas kotoran las dengan digetok-getok kecil dan dikuas. Lanjutkan pengelasan sampai semua bagian tersambung las dan bagian sudut tertutup lasan hingga penuh.

3. Siapkan plate sambungan:

Siapkan plate sambungan masing-masing 2 lembar untuk atas bawah kanan dan kiri. Potongan dibersihkan dengan digerinda dari bekas potongan. Tempelkan plate pada tempat sambungan dan dilas tik (cantum) tiap sambungan. Cek jika baja WF sudah pasti lurus las full semua bagian plate pada sambungan WF. Contoh gambar penyambungan dengan dipotong dan dilas:

sambungan-wf1

B. Sambungan sistem baut
Pada sambungan sistem baut, bagian masing2 sambungan dibuatkan lobang untuk baut. Baut yang digunakan pada sambungan baja harus jenis HTB (High tension bolt) baut dengan kekuatan yang lebih tinggi dari baut biasa.

Plate sambungan juga dibuatkan titik untuk lobang baut, mengikuti dari gambar kerja yang ada.

Contoh sambungan baja WF 400.200.8.13

sambungan-wf2

C. Sambungan voute
Seringkali ditemukan panjang baja dibagian voute nanggung atau kurang panjang, sehingga harus ditambah sambungan. Sambungan harus berada dalam area voute. contoh gambar sambungan:

sambungan-wf3

 

Posted on Leave a comment

Fabrikasi & erection pada kontruksi baja

Kontruksi baja pada bangunan saat ini sangat banyak dipakai dan diminati. Karena baja memiliki beberapa keunggulan,
antara lain dalam hal kekuatan, harga lebih bersaing, kecepatan dan kemudahan dalam pemasangan.

Fabrikasi baja kontruksi yang akan dipasang biasanya dilakukan diworkshop atau onsite (tempat dilakukan nya proyek).

Proses fabrikasi dan pemasangan kontruksi baja dilakukan sebagai berikut:
1. Material baja disiapkan
Material baja yang disiapkan sesuai dengan jenis, spesifikasi dan ukuran yang akan digunakan.
bagian Kolom dan kuda-kuda rafter memakai baja WF, gording menggunakan CNP, UNP, siku
dan branching rod, tie rod, plate sambungan, angkur, dll.

Material baja bisa didapatkan dari toko-toko baja terdekat.

Kualitas baja yang dipakai harus sesuai standar SNI dan sudah melalui uji ketahanan
uji leleh dan kekuatan yang disyaratkan.

Brand baja dipasaran antara lain dari KS (krakatau steel), Garuda, dll

2. Persiapan plate
Plate banyak dipakai sebagai simpul, sambungan, stifener. Ukuran plate dan ketebalan serta titik lobang baut menyesuaikan dengan gambar kerja.

Ukuran plate dan titik lobang baut harus benar presisi dengan menggunakan mal/penggaris supaya potongan plate lebih akurat.

Pemotongan:
Plate baja dipotong dengan menggunakan mesin gerinda potong, untuk ukuran baja WF yang besar sebaiknya menggunakan mesin gerinda potong duduk dengan diameter piring hingga 20″ atau lase cutting.

 

Setelah plate dipotong dan titik baut sudah ditandai, selanjutnya siapkan mesin pons, bor kecil dan bor utama untuk membuat lobang baut pada plate. Bagian titik dibor dengan bor kecil (misal 5mm) baru dilanjutkan menggunakan bor utama sesuai diameter baut (misal 16mm).

Setelah pemotongan dan pembuatan lobang baut selesai bersihkan plate dan haluskan dengan digrinda atau diamplas bagian sisa potongan plate sehingga tidak tajam.

3. Persiapan rafter, kolom
Ukuran WF dipasaran biasanya berbeda dengan panjang bentangan atau tinggi kolom pada kontruksi baja yang akan dipasang nantinya.

Maka baja yang ada harus dipotong sehingga sesuai dengan ukuran dari gambar kerja. Bagian yang akan dipotong diukur dengan mal/jangkar secara akurat dan presisi sehingga tidak mengalami kesalahan setelah dipotong. Jika terjadi kesalahan mengakibatkan kerugian biaya yang cukup besar.

3. Settingan
Bagian batang baja dan plate yang sudah disiapkan dari proses sebelumnya, selanjutnya sambungkan dan setting bagian-bagian tersebut sehingga hasilnya sesuai bentuk, jarak dan ukuran pada gambar kerja. Hasil pemasangan yang dilakukan dilantai kerja harus benar-benar sudah tepat dan presisi. Yang harus diperhatikan saat pemasangan dan settingan:
1. Tidak boleh ada kemiringan/sudut, panjang melebihi atau kurang
2. Dudukan plate, gordeng dan maupun balok anak tidak miring

Lakukan adjustmen kembali jika ada kekurangan pada saat penyambungan.

4. Pengelasan
Las baja menggunakan trafo las listrik dengan diameter kawat 3.2mm dan 4.0mm
Spesifikasi las trafo listrik yang disarankan:
Voltase: 380 3 fase
Daya listrik: 2000 – 12000 Hz
Arus input: 26 A
Arus output: 40 -400 A
Ukuran socket: 50 mm
Duty cycle: 60%

Cara pengelasan:
– Bersihkan bagian yang akan dilas dari kotoran atau debu.
-Tebal las disesuaikan dengan beban kontruksi
– Setelah pengelasan bersihkan sisa lasan dan dihaluskan
5. Erection (pengangkatan)
Adalah proses pengangkatan bagian rangka baja seperti kuda-kuda/rafter, kolom yang sudah disambung dan disetting diangkat untuk dipasang dibagian atas kontruksi untuk difitting dengan bagian lainnya (kolom-rafter-kuda-kuda, branching, tie rod dll).

Bagian kolom pertama kali diangkat dan dipasang setelah itu bagian rafter dan gording.

Proses pengangkatan kontruksi baja:

Untuk beban baja lebih dari 1 ton dan ketinggian lebih dari 10 meter maka pengangkatan kontruksi Baja sebaiknya menggunakan alat angkat berat seperti hoist, crane/mobile crane, karena lebih safety dan lebih mudah.

 

Beban dibawah 1 ton dengan ketinggian kolom 6m, dapat menggunakan lifting equipment seperti chain block, hoist yang memiliki daya angkat dari 5 ton.

chain-block       

Cara pembuatan chain block frame:
1.Buat as untuk tempat dikaitkan box katrol dengan ketinggian minimal 1 meter diatas tinggi kolom yang akan dipasang. As dapat dibuat beam yang ada atau menggunakan pipa dengan diamter 5″-6″ tebal 6mm yang disambungkan hingga ketinggan tersebut. Bagian ujung pipa dilas plate (tebal 15mm) dan dilobang untuk mengaitkan box katrol
2. As ditegakkan dan bagian ujung pipa diikatkan dengan tali tambang goni (diameter 1″) masing-masing di 4 penjuru dan tali tambang tadi diikatkan pada batok yang kuat atau pada pedestal yang ada.

6. Fitting atau peyambungan diatas rangka:

rafter-fitting
Setelah rangka kuda-kuda/rafter diangkat keatas pakai catrol atau crane dan sampai diposisi nya pasang baut dan kencangkan sampai plate simpul rafter rapat dengan kolom. Selajutnya ujung rafter diikat pakai seling (12 mm) dan tarik ujung seling bagian bawah ke pedestal/batok. Tarik dengan dua arah kanan kiri untuk rafter dengan bentangan panjang. Contoh bentangan 20 meter memakai 4 penjuru kearah kanan 2 penjuru dan kiri 2 penjuru. Pastikan semua ikatan kuat dan rafter tidak goyah. Setelah rafter pertama naik dan terpasang diposisinya, naikkan rafter kedua dengan cara yang sama dan langsung dipasang atau diikat pakai gording pada beberapa titik terutama dibagian atas nok rafter. Begitu seterusnya sehingga semua bagian rafter dan gording sudah naik dan terpasang diatas kolom.

Selanjutnya pasang branching/ tie rod sebagai pengikat rafter. Setelah semua braching terpasang dengan baik dan sudah disetting tarikan nya baru setelah itu seling boleh dilepas. Harus diingat jangan melepas seling sebelum branching terpasang dengan baik. Karena braching sebagai pengikat kontruksi kuda-kuda/rafter, jika tidak terpasang dengan baik rafter akan goyang, miring dan roboh sehingga dapat merugikan dan membahayakan keselamatan.

7. Finishing:
Finishing adalah proses pembersihan, pengecekan dan pengecatan dari kontruksi baja yang sudah disambungkan pengecatan mulai dari cat dasar dan cat vanishing. Sebaiknya pengecetan dilakukan dilantai kerja sebelum proses erection (pengangkatan) karena dilakukannya lebih mudah dan lebih aman.

Posted on Leave a comment

Instalasi Plumbing air buangan

Sistem pembuangan terdiri dari:
1. Sistem campuran, adalah pembuangan air kotor dan air bekas dikumpulkan dan dialirkan ke dalam saluran yang sama
2. Sistem terpisah, dalah pembuangan air kotor dan air bekas dialirkan secara terpisah
Misal: pada perumahan sistem pembuangan air kotor dipisah dengan air bekas, sedangkan saluran buangan air bekas sama dengan saluran air hujan.

Klasifikasi plumbing pembuangan terdiri dari:
1. Instalasi plumbing air kotor
Adalah sistem instalasi buangan air kotor (black water) yaitu dari kotoran manusia  yang berasal dari kloset, urinal, dll

2. Instalasi plumbing air bekas
Adalah sistem air bekas buangan (grey water) yang berasal dari wastafel, sink dapur, bathtup atau disebut grey water. Untuk suatu area daerah yang tidak tersedia riol umum, maka instalasi
plumbing air bekas dapat digabungkan dengan instalasi air kotor terlebih dahulu.
3. Instalasi plumbing air hujan
Instalasi pembuangan air hujan harus terpisah dari sistem pembuangan air kotor maupun air bekas, untuk menghindari air balik masuk ke sistem plumbing terendah jika saluran buangan tersumbat. Saluran buangan air hujan dari pipa atap atau jalan, halam, taman bermuara pada sistem drainase got atau gorong2 melalui cabang2 (biasanya posisi gorong2 dibawah area pejalan kaki serta memiliki bak kontrol dan saringan pada tiap cabang air resapan. Pada jarak 5 meter terdapat cabang2 got air yang menuju drainase atau gorong2 bangunan dan pada tiap2 gorong
bangunan dialirkan ke gorong2 kota.Ukuran dari gorong2 disesuaikan dengan luas area dan curah hujan agar gorong2 dapat menampung air hujan dengan intensitas tinggi sehingga kecepatan alir air hujan lebih tinggi dan tidak membuat jalan tidak terjadi genangan air.
4. Instlasi plumbing khusus

Yaitu sistem instalasi pembuangan limbah berupa gas, racun, lemak, limbah pabrik, limbah rumah sakit dan lainya.
Untuk sistem pengolahan limbah khusus seperti WWTP, STP, dll

Contoh sistem plumbing air kotor dan bekas yang digabung pada bangunan bertingkat yang muaranya pada tangki septic.
Komponen plumbing air pembuangan terdiri dari:

1. Alat tempat pembuangan air kotor/bekas: closet, batchup, uriner, wastafel
2. Pemipaan (Pipa venting, close out)

3. Control: Check valve, perangkap, interceptor
4. Bak penampung dan septitank
5. Pompa pembuangan

Syarat lainnya:
1. Pada pipa yang dipasang horizontal harus memiliki kemiringan minimal 2 derajat agar air mudah mengalir kearea yang lebih rendah

2. Tidak boleh ada percabangan pada pemipaan yang ditanam ditanah, karena jika ada penyumbatan susah untuk perbaikannya.

3. Pada shaft pipa pembuangan vertikal (untuk bangunan bertingkat) harus dibuat cleanout dan fan out.

4. Jarak antara septic tank dan sumur air bersih harus minimal 10 meter. Agar sumur air bersih tidak tercemar.

5. Pipa ven out dipasang apabila instalasi saluran air kotor banyak percabangan pada shaft pembuangan. Pipa ven out berfungsi untuk menyalurkan udara bertekanan atau gas yang terjebak pada saluran pipa, misal saat closet diguyur dengan air. Pipa ven dipasang miring 1% atau 15 cm diatas muka air pipa plumbing.

Posted on Leave a comment

Perencanaan system plumbing

Mengacu kepada: SNI 03-7065-2004 (Tata cara perencanaan sistem plumbing)
Perencanaan sistem plumbing:
Perencanaan sistem plumbing untuk bangunan gedung dengan jumlah penghuni lebih dari 500 atau pengunjung lebih dari 1500 orang harus dilakukan dalam 4 tahap

1. Konsep rencana
2. Rencana dasar
3. Rencana pendahuluan
4. Rencana pelaksanaan
1. Konsep rencana

1.1 Data dan informasi awal

Data dan informasi awal yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Jenis/penggunaan hunian dan jumlah penghuni
2. Gambar rencana arsitektural gedung pada tahap konsep
3. Jaringan air minum dan fasilitas pembuangan air buangan kota
4. Peraturan yang berlaku umum maupun yang berlaku setempat

Data dan informasi akhir
1. Gambar tapak yang menunjukkan lokasi penyambungan dengan sumber air dan lokasi system pembuangan
2. Gambar denah yang menunjukkan tata letak alat plumbing, jenis dan jumlah nya ditentukan berdasarkan SNI 03-6481-2000, sistem plumbing
3. Perkiraan anggaran pembangunan sistem plumbing
4. Rencana jangka panjang untuk pelaksanaan pembangunan, konsep cara membangun, pembagian paket pekerjaan
5. Dokumen yang diperlukan untuk mengurus persetujuan prinsip membangun dari instansi yang berwenang dan pihak lain yang terkait.
6. Sumber air minum:
A) Dari pengelola air minum, kapasitas dan kualitas yang dapat dijamin
B) dari sumber air baku untuk air minum dengan perkiraan kapasitas dan kualitas yang dapat dijamin sepanjang tahun
7. Sistem pembuangan;
a)Ke Riol kota, kapasitas, arah dan jalur pembuangan, serta ijin dari instansi yang berwenang
b)ke instalasi pengolahan air buangan setempat
8. Perhitungan kasar mengenai, kebutuhan air minum per hari, banyaknya air buangan per hari dan kebutuhan daya listrik untuk sistem plumbing
2. Rencana dasar
Penyusunan rencana dasar, terdiri dari:
1. Perhitungan kebutuhan air minum berdasarkan perkiraan total hunian
2. Penentuan jaringan utama, jalur pipa, dan diagram sistem plumbing
3. Penentuan ukuran dan perkiraan berat tangki air bawah dan atau tangki air atas
4. Penentuan cara penumpuan dan penggantungan pipa utama
5. Penentuan alternatif sistem dan perlengkapannya, rencana dasar mesin-mesin utama yang diperlukan

Gambar dan dokumen
1. Gambar yang disiapkan meliputi:
a) diagram sistem plumbing
b) gambar denah ruang mesin dan tangki, yang menunjukkan ukuran kasa mesin dan tangki tersebut

2. Dokumen dalam bentuk laporan yang disiapkan sekurang-kurangnya meliputi:
a) penjelasan alternatif sistem dan perlengkepannya
b) hasil perhitungan sistem plumbing, ukuran kasar dan jalur pipa utama
c) perkiraan berat pipa dan isinya untuk informasi bagi perencana struktur gedung
d) kapasitas mesin-mesin yang diperlukan
e) perkiraan biaya pelaksanaan yang lebih rinci untuk sistem plumbing
f) spesifikasi bahan dan peralatan

3. Rencana pendahuluan
Perhitungan

Perhitungan yang dilaksanankan sebagai berikut
1) perhitungan untuk menentukan ukuran semua pipa cabang
2) perhitungan laju aliran air dalam pipa ditentukan dengan metode yang mengacu pada
SNI 03-6481-2000 tentang sistem plumbing

Gambar dan dokumen
1) gambar yang disiapkan sekurang-kurang nya meliputi:
a) diagram satu garis sistem persediaan air minum, penyaluran air buangan, ven dan air hujan
b) gambar denah jaringan pipa utama
c) gambar denah ruang mesin dan tangki, yang menunjukkan ukuran kasar mesin dan tangki tersebut
d) gambar detail potongan yang penting atau khusus

2) Dokumen dalam bentuk laporan yang disiapkan sekurang-kurang nya meliputi:
a) hasil perhitungan dan penentuan ukuran seluruh pipa
b) perkiraan biaya pendahuluan
c) perkiraan beban terhadap struktur gedung
d) perkiraan kebutuhan daya listrik

4. Rencana pelaksanaan
Dokumen rencana detail pelaksanaan yang harus disiapkan meliputi:
1) gambar detail pelaksanaan
2) perkiraan biaya pelaksanaan pembangunan sistem plumbing
3) spesifikasi lengkap
4) persyaratan umum pelaksanaan

Posted on Leave a comment

Pemasangan penangkal petir

Penangkal petir adalah perangkat yang digunakan untuk menyalurkan energy listrik yang dihasilkan dari petir menuju ke permukaan tanah, sehingga energy listrik petir tersebut bila mengenai suatu banguanan tidak merusak dan tidak membahayakan bagi benda yang dilewatinya, untuk kemanan bagi gedung dan orang disekitarnya.

Prinsip kerja penangkal petir:

Petir dengan muatan listrik negatif akan mencari titik terdekat muatan yang berlawanan yaitu muatan positif. Muatan positif pada tanah melalui grounding merambat melalui konduktor menuju ujung batang penangkal petir. Pertemuan muatan positif dan negatif mengahsilkan aliran listrik melalui konduktor dan merambat ke pentanahan.

Ada dua jenis penangkal petir:cara konvensional dan sistem radius. Pangkal sistem radius memiliki cakupan wilayah yang dilingungi lebih luas. Dan frekwensi sambaran petir sistem radius lebih banyak karena luasnya
area yang dilindungi. Sistem radius harus memiliki sistem grounding yang lebih baik dari pada sistem konvensional.
Bagian penangkal petir konvensional:
1. Batang penangkal petir
2. Kabel konduktor
3. Pembumian

1. Batang penangkal petir berupa tembaga yang ujungnya runcing berbentuk seperti tombak. Dibuat runcing karena muatan listrik mempunyai sifat mudah berkumpul dan lepas
pada ujung logam yang runcing. Dengan demikian dapat memperlancar proses tarik menarik dengan muatan listrik yang
ada diawan. Batang runcing ini dipasang pada bagian puncah suatu bangunan. Ketinggian tombak atas (split) hingga 1 meter. Atau batang penangkal petir dipasang pada tiang tunggal.


Kabel Konduktor:
Kabel konduktor terbuat dari jalinan kawat tembaga dengan diameter 1cm – 3cm. Kabel konduktor disambungkan ke batang penangkal petir dengan cara diclamp, dibaut atau dilas sehingga sambungan kabel konduktor dan batang kuat. Pada bagian bawah kabel konduktor disambungkan dengan batang pentanahan atau grounding. Kabel konduktor tersebut dipasang pada dinding dibagian luar bangunan. Atau dipasang sepanjang bubungan dan pinggiran atap bangunan. Kemudian melewati sudut-sudut bangunan dan turun kebawah menuju titik pembumian.

Tipe kabel adalah BC luas permukaan 25mm2, 50mm2,

Pembumian
Tempat pembumian (grounding) berfungsi mengalirkan muatan listrik dari kabel konduktor ke batang pembumian (ground rod) yang tertanam ditanah.

Batang pembumian terbuat dari bahan tembaga berlapis Baja Diameter 1″, 3/4″, 1/2″ cm dan panjang sekitar 1,8 – 4 m

Pemasangan penangkal petir harus disesuaikan dengan cakupan luas area atau radius perlindungan yang sesuai yang mengacu kepada komponen air terminal yang
diperlukan.

Ketinggian instalasi penangkal petir dari bawah hingga atas permukaan Tanah juga berpengaruh pada besaran radius perlindungan dimana ketinggan dan radius berbending lurus dengan bertambahnya radius perlindungan.

Pada instalasi kabel BC yang dipasang disepanjang atap, sebaiknya dilindungi dengan menggunakan PVC selain untuk menghindari dari bahaya loncatan listrik terhadap material disekitar gedung juga untuk menghindari dari kerusakan mekanis


Instalasi penangkal petir:

Perencanaan:

Gambar atau denah sistem penangkal petir terdiri dari:

-Jumlah batang penangkal petir yang akan dipasang
-Titik pemasangan pada banguanan: Titik yang lebih tinggi
-Jalur konduktor = bumbungan hingga ke dinding bagian luar
-Titing pembumian ,

Alat dan bahan:
1. Unit splitzen kerucut (Tombak atas) =  2 unit
2. Copper road 1/2″ x 1 meter
3. Kabel BC (dia 25,50mm) panjang: 20 meter
4. Pipa conduit  : 4 batang
5. Clamp, baut pengencang (minimal tebal baut 20mm): 10 ea
6. Ground rod : diameter 1″, 3/4″ cm panjang 3-4 meter (dapat dipasang single dengan 1 ground rod atau
paralel dengan 2 pcs ground rod)

Posted on Leave a comment

Pemasangan electrode grounding

Teknik pemasangan electrode grounding dengan metode 1. single, 2.parallel 3. maximal grounding

grounding

Dari electrode grounding yang ditanam kedalam tanah selanjutnya disambungkan ke kabel conductor grounding menuju PHB (Panel hubung bagi), konduktor grounding PE selanjutnya ditarik keinstalasi kabel. Konduktor PE dijamper ke terminal grounding dan kebagian BKE seperti box metal panel, dll.

grounding-panel

Setelah grounding terpasang, dilakukan pengukuran tahanan grounding dengan menggunakan earth tester.

pengukuran-grounding

Tahanan grounding yang diterima sekecil mungkin hingga 0 ohm. range toleransi tahanan grounding 10 ohm – 0 ohm tergantung kepada tahanan jenis tanah. Untuk tanah berbatu dan berpasir tahanan maksimal yang masih dapat diperbolehkan 10 ohm.

 

 

Posted on 1 Comment

Cara praktis instalasi listrik rumah

A. Pemasangan kabel listrik, stop kontak dan saklar:

Pada bangunan baru sebaiknya pemasangan instalasi listrik dikerjakan sebelum dinding diplester.

Berikut langkah-langkah dalam pemasangan instalasi listrik:

1. Tentukan letak stopkontak pada tembok dan ketinggian stop kontak minimal 30 cm atau lebih dari lantai.

2. Pasang T dus pada dinding yang sudah ditentukan dengan cara dipaku langsung kedinding.

3. Pasang pipa conduit pada dinding, masukkan ujung pipa bagian bawah kelubang T dus sedangkan pipa bagian atas sejajar dengan ujung dinding

4. Pasang klem pada pipa agar pipa kuat dengan jarak antar klem 50cm.

5. Sebelum dinding diplester, pastikan tidak ada lobang pada pipa dan lobang
T dus diselotip untuk mencegah masuknya plesteran kedalam pipa atau T dus
sehingga dapat terjadi sumbatan yang akan menyulitkan saat penarikan kabel.
6. Setelah dinding diplester tahapan berikutnya adalah pemasangan kabel dan stop kontak.
Sambungkan kabel ke jalur utama instalasi dan masukkan kabel dari arah atas pipa conduit
sampai ke keluar T dus.

7. Pasang kabel pada kedua konektor stop kontak lalu dikencangkan sekrupnya.
Pastikan bagian api, netral dan grounding terpasang dengan benar dan tidak terbalik.

8. Masukkan box stop kontak kedalam T dus dan kencangkan kedua buah baut dari depan stop kontak agar penjepit stop kontak dapat merenggang dan menjepit dinding t dus.
Cek kelurusan box stop kontak (pastikan sejajar dan tidak miring) sebelum pengencangan.

9. Pastikan tidak ada rongga antara box stop kontak dan dinding, tambahkan sealant untuk
menutup celah atau rongga antara box stop kontak dan dinding.

10. Beberapa jenis stop kontak dipasaran dengan harga dan kualitas yang ditawarkan.
Untuk kualitas dan kemudahan pemasangan untuk standar industri direkomendasikan
menggunakan brand dari panasonic, MK (harga lebih mahal) sedangkan clipsal atau broco
memiliki harga lebih murah tetapi sulit dalam pemasangan.

Syarat lainnya:
1. Dihindari pecabangan kabel pada instalasi kabel yang ditanam didalam dinding
2. Hindari kebocoran atau kerusakan pipa karena saat pengecoran plester dapat masuk
kedalam pipa dan terjadi sumbatan yang akan menyulitkan saat penarikan kabel atau perbaikan.
3. Setiap sambungan harus dipastikan lagi diisolasi agar tidak ada rongga atau celah masuknya benda asing sehingga menyumbat jalur kabel.

Pemilihan kabel rumah:

Pemilihan kabel berdasarkan KHA (Kuat hantar arus) dan penggunanan serta pemasangan.
Tipe kabel dapat dilihat pada standar PUIL200 instalasi listrik pada gedung.

Umumnya pada instalasi rumah terdapat beberapa jenis kabel:

Untuk kabel PHB atau feeder panel menggunakan menggunakan diameter lebih besar
minimal 4mm2 (KHA =35A)
Kabel instalasi utama dari MCB ke saklar 2.5mm2 (KHA=25A)
Kabel untuk lampu dipakai 1.5mm2 (KHA 20 A)

Tipa kabel:

– NYM = kabel rumah termoplastik berselubung, dapat dipakai diatas, didalam dan dibawah plesteran juga diatas kayu. cocok untuk area kering dan lembab atau basah. harga lebih mahal dibanding NYA dan tidak tanah air
– NYA = kabel rumah termoplastik, dipasang didalam pipa dan tidak direkomendasikan untuk area lembab atau basah atau gudang dengan bahaya ledakan. Kelebihan harga lebih murah. Dapat dipakai sebagai kabel penghantar pembumian (PE)
– NYY = kabel tanah berisolasi dan berselubung termoplastik dan tahan air. harga nya lebih mahal dibanding NYM.

Warna kabel
Inti rel:
1. Instalasi perlengkapan listrik : fase R, S, T warna masing2 merah, kuning, hitam
2. Penghantar netral = biru
3. Penghantar pembumian (PE) = loreng kuning – hijau

B. Pembumian/Grounding:

Pembumian yang baik dari suatu listrik sangat kritikal dalam menjaga keamanan instalasi
listrik dari bahaya kebakaran , petir serta arus bocor.

Tahanan pentanahan adalah nilai tahanan dari konduktor grounding yang ditanamkan didalam bumi. Tahanan pentanahan harus sekecil mungkin (o ohm) dan minimal 5 ohm.

Cara pemasangan:
-Pemasangan grounding rod harus melihat kondisi tanah disekitar bangunan.

-Jika tanah berpori dan gembur maka dengan mananamkan batang pipa ground sedalam 1m
sudah bisa didapat tahanan pentanahan 5ohm dimusim kemaru atau 1 ohm dimusim hujan.

-Pada tanah yang berpasir, tanah liat yang tidak berpori, tanah berbatu untuk mendapatkan
tahanan 5ohm memerlukan beberapa titik grounding dengan kedalaman 3-5 meter dan jarak
antar titik minimal 2x panjan batang pipa (10m)

-Cara lain pemasangan grounding adalah dengan memanfaatkan instalasi baja/besi pada tiang beton rumah. Karena pada beton bertulang bagian bawah pondasi selalu menyentuh
tanah. Bagian konduktor grounding dapat disambungkan ke baja atau besi beton pada tiang
beton sehingga didapatkan tahanan pentanahan 5ohm atau kurang tergantung dari jenis Tanah dan kedalaman pondasi tanah.

-Kabel netral dapat dijumper digabungkan dengan kabel grounding pada box terminal PHB.
Pada jaringan PLN kabel netral sudah digrounding. Tetapi untuk meningkatkan keamanan terhadap tegangn sentuh (misal jika ada peralatan listrik yang isolasinya bocor) maka kabel netral tadi dapat digroundingkan lagi.

C. Penangkal petir
jika rumah 2 lantai dan tidak ada pohon dan bangunan disekitarnya lebih tinggi
dari atap rumah, sedangkan daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki tingkat curah
hujan tinggi dan sering terjadi petir seperti daerah (depok, bogor, sawangan,ciputat) maka
untuk menghindari resiko tersambar petir pada atap rumah wajib dipasang penangkal petir.
-Tahanan penangkal petir harus kecil dari 1 ohm.
-Kabel grounding penangkal petir harus terjaga selalu terpasang pada batang grounding.
Sambungan grounding agar tidak karatan apalagi terlepas dari pentanahan.

-Jika sambungan penghantar ground terlepas dari batang pentanahan akan berakibat fatal
karena energi yang besar dari sambaran petir tidak berhasil disalurkan langsung ketanah
namun akan mencari benda disekitar bangunan sehingga terjadi ledakan dan kebakaran.
D. Melakukan pengukuran tahanan isolasi kabel

Pengukuran besarnya tahanan isolasi kabel dengan menggunakan alat Megger (mega ohm metter)

Cara pakai:
megger akan meninjeksikan tegangan 1000VDC pada kabel yang akan diukur tahanan isolasinya.
Standar pengukuran:
Peraturan PUIL 2000:
Setiap tegangan 1 volt harus memiliki tahanan isolasi minimal 1 ohm.
Maka jika tegangan kerja 220-240 Volt maka tahanan isolasi minimal 240 ohm.
Jika kurang dari 240 ohm maka tahanan isolasi kabel sudah termasuk kategori bocor.
Jika tahanan isolasi 0 ohm, instalasi listrik sudah dinyatakan sebagai hubung singkat.

Kabel baru biasanya memiliki tahanan isolasi > 30 000 ohm/ 30 M ohm.
Pada kualitas kabel yang bagus setelah 25 tahun umumnya tahanan isolasi masih > 2000 ohm
E. Melakukan pengukuran tahanan pentanahan/grounding

Alat yang digunakan untuk mengukur tahanan grounding adalah dengan menggunakan  earth tester

Standar pengukuran:
Peraturan PUIL 2000:
Nilai tahanan grounding minimal 5 ohm untuk tanah ganbut atau 10 ohm untuk tanah berpasir.

Posted on Leave a comment

Underwater light

Underwater light atau resistant lamp adalah lampu yang kedap air yang dapat di
pasang didalam air seperti kolam renang, kolam ikan, dll.

Spesifikasi
Bentuknya bulat dengan diameter hingga 27cm dengan daya 100W,300W dengan
sumber daya tegangan yang rendah 12v ac/dc atau 24 vac/dc

Terdapat kabel sambung lampu yang kedap air dengan panjang 2m yang dililit dibelakang
lampunya, gunanya agar saat perbaikan atau pergantian lampu (bohlam putus) lampu nya bisa dilepas
dan diangkat keatas lantai kolam.

uw-lamp

cara pemasanganan:

1. Penyambungan kabel ke lampu:
Gunakan sealant lebih banyak pada kabel yang masuk kelampu sampai bagian kabel rapat
agar tidak ada air yang masuk kedalam kabel sehingga dapat menyebabkan konsleting listrik.

2. Pemasangan tempat lampu:
Tempat lampu dipasang 60-70cm dari permukaan lantai finishing pooldeck dengan cara :
–  Ditempel pada dinding kolam,
dengan mengebor bagian dinding kolam untuk memasang baut dan fisher.
–  Ditanam didinding kolam. Bagian fitting lampu ditanam kedalam dinding sedalam 15-20cm.

3. Penarikan kabel:
-Gunakan kabel (2.5mm) kabel yang lebih besar dapat mudah mengalirkan arus listrik,
Kabel lampu ditarik melewati dalam dinding kolam dan menyambung dengan tee dus.
Pada sambungan memberi selotip (3M) agar sambungan lebih kuat dan tidak mudah
terkena air. Selanjutnya kabel dihubungkan ke trafo penurun tegangan 220AV -> 12/24V
dari trafo kabel dihubungkan ke sumber listrik.
-Lindungi kabel dengan menggunakan pipa conduit.
Gambar instalasi:

instalasi-uw-lamp           fitting-uw-l

Posted on Leave a comment

Struktur Bangunan Rumah

Struktur merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam menopang

kekuatan sebuah bangunan dalam hal menahan beban mati dan beban hidup, beban angina, gempa, sehingga aman untuk ditempati.

Bagian dari struktur bangunan adalah: Pondasi, sloof, kolom, balok.
Kekuatan dari suatu komponen struktur tersebut ditentukan dari
pemilihan tipe kontruksi pada tahap awal perancanganan seperti: dimesin/ukuran, bahan yang digunakan serta tekinik pemasangan.

Bagian struktur yang baik harus mengikat satu sama lain sehingga dapat
menyalurkan beban secara merata dan seimbang.

Dikenal ada 2 jenis struktur yaitu struktur beton bertulang dan struktur baja. Kedua2nya memiliki

keunggulan dan kelemahan masing-masing nya.
Berikut ini contoh perhitungan untuk menentukan dimensi struktur bangunan:

1. Pondasi
Pondasi bangunan merupakan bagian struktur yang terletak dibawah Tanah.
Awal dari proses pembuatan perencanaan struktur bangunan adalah menentukan
tipe dan dimesin dari pondasi yang akan digunakan sesuai dengan ukuran bangunan
serta beban yang dipikul. Ada beberapa tipe pondasi yang dipakai (tipe pondasi).

2. Kolom:
Kolom merupakan elemen kontruksi yang berbentuk vertikal yang menerima
transfer beban dari pelat dan balok kemudian meneruskan ke tanah melalui
kontruksi pondasi

Cara menentukan ukuran Kolom:

Ketahui data2 teknis seperti:
1. Tinggi kolom lt1 (3.5m)
2. Tinggi kolom lt2 (3.5m)
3. Dimensi balok induk (40×20)
4. Dimensi balok anak (25×15)
5. Pelat lantai (t) = 120 mm
6. Pelat atap (t) = 100 mm

Hitung pembebanan pada kolom:
Beban yang bekerja pada kolom 1 diakumulasikan dengan beban-beban yang bekerja
pada kolom lantai 2. Hal ini dilakukan agar dimensi kolom lantai 1 tidak lebih
kecil dari dimensi kolom pada lantai 2.

Perhitungan beban pada kolom adalah sebagai berikut:

A. Pembebanan kolom lantai 2
Distribusi pembebanan kolom lantai 2 berasal dari dak atap, plafon dan ring balok
lantai 2.

Perhitungan beban mati:
Total beban mati lantai 2 = W balok + W pelat + W plafon
W lt2 = 1300Kg + 2000Kg + 200 Kg
= 3500

Beban hidup
Dimana gedung dan rumah tinggal memiliki beban hidup sebesar 200kg/m2

Beban hidup = 200 x 4,75 x 2 = 1900 kg

Beban total lantai 2 = 1.2 W mati + 1.6 W hidup
= 1.2 x 3500 + 1.6 x 1900 = 7306 kg

B. Pembebanan beban mati lantai 1
W = W balok + W kolom + W wall + W pelat + W pelat + w finishing + W total Lt2
= 12,000 kg

Beban hidup , = 1900 kg

W 1 = 1.2 W lt1 + 1.6 W hidup
= 1.2×12,000 + 1.6x 1900
= 17,000 kg
a) Dimensi kolom lt 2
Ag lt2 = 0,0464 W lt2 (max)
= 0,0464 x 8408,8 kg
= 390,168 cm2
Diambil lebar kolom (b) = tebal dinding , yaitu sebesar 15 cm
Maka panjang kolom adalah:
h = A g / b
= 390,168 / 15 = 26,011cm
~ 30 cm

Maka dimensi kolom K2 15 x 30 cm

b) Dimensi kolom lt 1
Ag lt1 = 0,0464 W lt1 (max)
= 0,0464 x 20,000 kg
= 928,427 cm2
Diambil lebar kolom (b) = tebal dinding , yaitu sebesar 30 cm
Maka panjang kolom adalah:
h = A g / b
= 928,427 / 30 = 30,948 cm
~ 40 cm

Maka dimensi kolom K1 30 x 40 cm

Atau

Kolom beton 20 x 20 = 400 cm2
Dapat menahan beban sebesar:
W beban = 400 / 0,0464 = 8620 kg

Kolom beton 15 x 15 = 225 cm2
Dapat menahan beban sebesar:
W beban = 400 / 0,0464 = 4849 kg
3. Sloof
Sebagai pengikat struktur diatas tanah. Sloof menahan beban dinding diatasnya
serta meningkatkan kekuatan serta kekakuan lentur pondasi.

Ukuran sloof digunakan (Lebar x Tinggi):
30 x 60
25 x 50
20 x 40
15 x 30
15 x 20

4. Pelat
Pelat terdiri dari pelat pelat 1 arah dan 2 arah. Pelat satu arah digunakan
untuk menghemat volume tulangan dalam arah tertentu. Sedangkan pelat dua arah
memiliki kelebihan dalam hal kekakuan lantai yang lebih besar dalam arah pem
bebanan gempa.

Dimensi pelat ditentukan dengan cara:
Panjang bentang pelat diantara kolom pendukung nya (x) dibagi 30
Misal x = 4m, maka tebal pelat = 4000 mm/30 = 130mm~150mm
Pelat atap diasumsikan memiliki beban yang lebih ringan daripada pelat lantai.
Tebal pelat atap diambil 12 mm

4. Balok:
Terdiri dari balok induk dan balok anak
Balok merupakan elemen struktur posisi melintang yang berfungsi mentransfer
beban dari pelat ke kolom.

Dimensi balok induk :

Tinggi balok induk = Panjang bentang antar kolom (x)/ 12
misal  x = 8 m
Tinggi balok induk (h) = 8000 mm/12 = 666,67 ~ 700 mm.
Lebar balok = h / 2 = 700mm/2 = 350 mm
B1 – 350x700mm

Satuan pembagi/pembanding lebar antara h / (1.5 – 2 )
misal balok 20/30, 30/50

Balok anak
Dimensi balok anak:
Tinggi balok anak = Panjang bentang antar kolom (x)/ 16
Tinggi balok anak (h) = 8000 mm/16 = 500 mm
Lebar balok anak = h/2 = 500 mm/2 = 250
B2-250×500 mm

5. Rangka atap
Rangka atap berfungsi menopang bagian komponen atap terdiri dari
atap genteng, aluminium, bumbungan, talang air hujan.

Rangka atap harus dirancang untuk menahan beban komponen atap, beban
air hujan, beban angina.